KUASA DAN PROFESI KEGURUAN
(B.S.Sidjabat)
1- Pengantar.[1]
UU Guru dan Dosen (No 14 Tahun 2005) mengemukakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikasi pendidik disamping sehat jasmani dan rohani. Empat kompetensi yang harus berkembang dalam diri guru ialah: 1) kompetensi pedagogik; 2) kompetensi kepribadian; 3) kompetensi sosial dan 4) kompetensi profesional (Bab IV, Pasal 10). Terkait dengan kompetensi kepribadian itu, Kunandar, dalam Guru Profesional (2007) mencatat sejumlah elemen yang perlu dimiliki dan dikembangkan oleh guru.
| No |
Kompetensi |
Sub Kompetensi |
Indikator
|
| 1. | Kompetensi Kepribadian: kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. | 1.1. Kepribadian yang mantap dan stabil. | a) Bertindak sesuai dengan norma hukum.b) Bertindak sesuai dengan norma sosial.
c) Bangga sebagai guru. d) Memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma. |
| 1.2. Kepribadian yangdewasa. | a) Menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik.b) Memiliki etos kerja sebagai guru. | ||
| 1.3. Kepribadian yangarif. | a) Menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat.b) Menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak. | ||
| 1.4. Kepribadian yang berwibawa. | a) Memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik.b) Memiliki perilaku yang disegani. | ||
| 1.5. Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan. | a) Bertindak sesuai dengan norma religius (iman, takwa, jujur, ikhlas, suka menolong).b) Memiliki perilaku yang diteladani oleh peserta didik. |
Sumber: “Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti dan Direktorat Profesi Pendidik Ditjen PMPTK Depdiknas dengan modifikasi” dalam Kunandar, Guru Profesional (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007: 75-77).
Saya tertarik dengan kepribadian berwibawa yang patut dimiliki seorang guru (1.4). Dikemukakan bahwa indikator guru berwibawa ada dua, yakni: a) memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik; dan b) memiliki perilaku yang disegani. Sangat tidak baik memang bilamana guru kurang mampu mewujudkan kedua hal itu dalam kehidupan dan tugasnya sehari-hari. Guru yang tidak disegani oleh muridnya, tidak didengarkan nasehatnya. Akibatnya mereka dilanda oleh perasaan rendah diri, lemah di dalam batin dan mentalnya.
Tidak jarang guru bersikap laizzefair di dalam kepemimpinannya bersama murid, supaya merasa diterima dan dihargai mereka. Guru itu membuat murid-murid merasa bebas dalam banyak hal sesuka hati demi menyenangkan mereka. Akibatnya, murid menjadi tidak berdisiplin. Tidak sedikit guru yang membangun sikap otoriter (authoritarian) supaya didengar oleh anak didiknya. Namun kerap murid malah tidak terbuka, sebaliknya menutup diri, takut, kecewa kepada gurunya.
Bukan hanya guru yang membutuhkan wibawa dalam kehidupan. Setiap orang memerlukannya. Orangtua di rumah ingin ditaati anak-anak, juga pendeta di dalam gereja ingin dihormati warga jemaat. Para selebriti tak ketinggalan, berupaya tampil prima dan tetap powerful dan memikat hati penggemar. Pejabat pemerintah yang tidak berwibawa akan ditinggalkan oleh pendukungnya maupun oleh mereka yang dipimpinnya. Mereka memandangnya tidak mempunyai otoritas maupun kuasa (lack of power).
2- Cara keliru meraihnya.
Wibawa tidak lepas dari kekuatan atau kuasa (power) di dalam batin yang kita miliki. Power itulah memancarkan wibawa, kharisma. Karena pentingnya wibawa ini, maka orang berusaha memperoleh kuasa, meningkatkan dan mempertahankannya. Tujuannya supaya memiliki self confidence. Beragam cara yang ditempuh orang, antara lain:
Pertama, berhubungan dengan roh-roh halus guna beroleh kekuatan magis (magical power), dengan memiliki jimat dan mantra. Jasa dukun dan para normal atau “orang pintar” penting dalam perkara ini. Orang Indonesia terlalu menyukai cara ini karena pengaruh keyakinan keyakinan animistik[2].
Kedua, dengan memperoleh dan mempertahankan kedudukan (posisi) di dalam sistem organisasi, di tengah kelompok dan masyarakat. Termasuk di tengah gereja para pendeta (hamba Tuhan) berebut menduduki kedudukan tertinggi (ketua sinode, bishop, ephorus, dll).
Ketiga, menonjolkan gelar-gelar yang diwarisi atau diraihnya (keturunan, akademis, penghargaan-penghargaan). Orang Batak di dalam pesta-pesat selalu menyebut leluhurnya dengan sebutan “Raja” seperti “Raja Sidjabat”, “Raja Sidabutar.” Para caleg dewasa ini menuliskan gelar-gelarnya untuk membuat rakyat terpesona.
Keempat, menumpuk kepemilikan (harta). Kalau kita kaya, pastilah banyak teman dan saudara. Sebaliknya jika miskin, siapa yang mau memandang kita sahabat? Iblis saja menawarkan harta, kuasa dan kekuatan kepada Yesus di padang gurun, agar Dia powerful dan berwibawa di dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah. Jelas, Yesus menolaknya karena tanpa itu semua Dia telah berkenan kepada Sang Bapa (bd. Mat 4:1-11).
Akhirnya, orang memperoleh kuasa dan wibawa dengan membangun dukungan kelompok sosial (club, geng). Orang melibatkan diri dalam perkumpulan-perkumpulan sosial dan tradisional. Untuk ini jelas orang harus mengeluarkan biaya, tenaga dan waktu.
3- Sebaiknya bagaimana?
Bagaimana kita menanggapi kuasa maupun wibawa (sahala) ini? Sebagai orang beriman kepada Allah Tritunggal, kita harus memahami bahwa Tuhanlah sumber kuasa dan wibawa (kharisma). Dia memberikan kuasa kepada manusia untuk menguasai alam dan mengelolanya untuk kesejahtaraan hidupnya dan bagi kemuliaan Allah (Kej 1:28). Tetapi karena kejatuhan ke dalam dosa, kuasa itu tidak lagi stabil dalam diri manusia bahkan cenderung disalahgunakannya (untuk kepentingan diri, golongan). Ada banyak contoh di dalam Alkitab mengenai orang-orang yang menyalahgunakan kuasa (otoritas, wibawa) dari Tuhan. Anak manusia di bumi ini selalu ingin mendapatkan kuasa dari luar dirinya, karena dirasakan yang ada padanya lemah, tidak lengkap.
Para nabi dahulu diberi Tuhan wibawa sehingga berwibawa di hadapan pendengarnya. Agar didengar orang Israel, Tuhan memberi kuasa kepada Musa dan Harun. Supaya didengar oleh orang Israel dan raja Ahab beserta isterinya Izebel, Allah memberikan wibawa kenabian kepada Elia dan Elisa. Peristiwa di gunung Karmel merupakan sebuah contoh bagaimana kuasa dan wibawa Tuhan menyertai Elia. Tidak ketinggalan dengan nabi Yesaya yang menubuatkan kedatangan Mesias kepada bangsa Yehuda yang sudah lebih betah memuja patung. Roh Tuhan menyertai dan mengurapinya untuk melayani kaum tertindas (bd. Yes 11:1-3; 61:1-3). Di kemudian waktu, Yesus memberi kuasa kepada murid-murid-Nya (Mrk 6:6b-12; 16:15-20).
Yesus sendiri mengatakan bahwa kepada-Nya telah diberikan segala kuasa (exousia) baik di sorga maupun di bumi (Mat 28:18). Roh Kudus datang dan hadir dalam kehidupan para murid guna memberi mereka kuasa (dunamis) atau ketahanan, ketangguhan, sebagai saksi-saksi-Nya (Kis 1:8). Kita dapat membaca dalam Kisah Para Rasul bagaimana orang-orang sederhana pun ketika kuasa Roh Kudus bekerja, hidup mereka berdampak positif.
Kita membutuhkan kuasa (dunamis) di dalam pekerjaan sehari-hari[3]. Rasul Paulus mengakui bahwa dalam memberitakan Kristus, menasehati, mengajari orang, ia mengandalkan kuasa Tuhan yang bekerja di dalam dirinya. Ia mengizinkan tenaga dari Kristus yang melimpah dalam dirinya, yang memberikan hikmat (bd. Kol 1:28,29). Kekuatan (strength) Kristus membuatnya mampu menghadapi keadaan kekurangan maupun kelimpahan finansial (Flp 4:13). Diakui pula bahwa dalam kelemahanlah kuasa Kristus menaungi dirinya, sehingga sanggup bertahan di dalam penderitaan (2 Kor 12:9-10).
4 – Aplikasi dalam pendidikan.
Pendidikan pada dasarnya merupakan upaya memampukan anak didik agar sanggup menunaikan tugas dan panggilan hidupnya. Tugas guru adalah empowerment (pemampuan) bukan sebagai penaklukan dan penjinakan (domestication). Peran guru bukan hanya pengajar tetapi juga pelatih, pembimbing, pendamping dan teladan. UU Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005 menjelaskan bahwa: “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.” (Pembukaan).
Tugas empowerment mempunyai arti menanamkan kepercayan, membangkitkan potensi dalam diri orang yang kita layani, sehingga mereka mengalami power dalam hidupnya. Power itu berupa pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai yang benar, dan kemampuan (skill) serta komunitas yang membangun. Ketika kita mengajar dan melakukan pelatihan, sebenarnya kita mengelola aktivitas sharing of power kepada dan bersama para peserta. Kawan-kawan yang akrab dan bersahabat dapat menjadi power bagi kita secara positif. Peserta didik yang bersahabat dengan gurunya akan membangun wibawa pada diri sang guru. Begitu pula sebaliknya!
Dalam kaitan dengan empowerment itu, kita patut meneladani Tuhan Yesus, yang memampukan murid-murid-Nya dengan berbagai cara.
a) Dia memberikan pengajaran, telling the truth of the gospel. Injil Kerajaan Sorga
memberikan kuasa yang mengubahkan kehidupan dalam diri pendengar yang percaya. Yesus berkotbah, berceramah, berdialog, menjawab pertanyaan, memberikan perumpamaan, semuanya untuk membuka pikiran dan menanamkan pengetahuan dan pengertian yang benar.
b) Dia menyentuh perasaan (feeling) mereka. Yesus memotivasi para murid dengan
ucapan bermakna, memberikan afirmasi kalau benar dan menegur secara bijak bilamana keliru. Yesus membuat para murid-Nya berharga. Petrus dibuat-Nya berharga ketika berhasil mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang Mahatinggi (Mat 16:16-18). Kerap Yesus mengajak mereka berjalan-jalan keliling desa dan kota dalam rangka membangun perasaan itu.
c) Yesus menjadi teladan (model) menghadapi penolakan, kritikan, dan di dalam
melayani orang-orang terpinggirkan serta menghadapi tokoh-tokoh agama yang bersikap bermusuhan dengan-Nya. Ketika menghadapi penolakan di Nazaret (Mrk 6:1-6) Yesus bersama-sama dengan para murid di rumah ibadat itu. Yesus rela menjadi miskin untuk mengangkat harkat orang miskin (Mat 5:3). Kelemahlembutan dan rendah hati mewarnai hidup-Nya (bd. Mat 11:28-30). Dia bahkan menjadi model bagiamana berkorban di dalam memenuhi kehendak Bapa-Nya demi menebus manusia berdosa (Mrk 10:45). Menurut Tuhan, keteladanan hidup sangat berbicara kepada banyak orang lebih daripada seribu bahasa. Ucapan dan perbuatan menjadi seirama dan Dia tampil berintegritas.
d) Akhirnya, Yesus mengutus Roh Kudus untuk mendiami para murid, menyertai dan
memampukan mereka di dalam kehidupan (Yoh 14:16,17,16; 15:26,27). Setelah kebangkitan-Nya dari kematian, Yesus mengatakan: “Terimalah Roh Kudus..” dalam rangka pemberitaan anugerah Allah (Yoh 20:22). Maklumlah, yang harus mereka kumandangkan adalah berita pertobatan dan pengampunan dosa di dalam Kristus!
Jadi bagaimana? Jelas, kita membutuhkan kuasa yang memunculkan wibawa,
kharisma, di dalam hidup dan pelayanan. Perkara itu merupakan buah dari kuasa (power) spiritual yang berdampak kepada anak didik, rekan-rekan, keluarga, gereja dan masyarakat. Jangalah kita menjadi pelayan Tuhan yang kaya dengan pengetahuan dan pengertian serta keterampilan. Melimpah dengan pengetahuan teologi Injili saja tidak memadai! Jangan pula kita menjadi pelayan yang hatinya tertuju kepada kedudukan dan kekayaan, dengan alasan bahwa perkara itu membuat kita berwibawa. Kita harus melimpah dengan kuasa Tuhan yang membuat kita menyala-nyala bagi Dia[4]. Rasul Paulus menasehatkan: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Rom 12:11). Juga dikatakan: “Janganlah padamkan Roh…”(1 Tes 5:19). Tuhan memberikan itu kepada setiap orang percaya, terutama kepada hamba-hamba-Nya!
Untuk itu kita harus memenuhi undangan Yesus untuk terus menerus tinggal dalam Dia, dalam firman-Nya dan di dalam kasih-Nya; bukan hanya Dia yang tinggal di dalam kita (Yoh 15:4,5,7,9). Kita harus memberi diri kepada Roh Kudus untuk dipenuhi-Nya (Ef 5:17), untuk dipimpin-Nya ketika melakukan tugas (Gal 5:16-18, 25). Kita perlu mengizinkan Allah berkarya di dalam diri kita dan melalui hidup kita (bd Flp 2:13). Tuhanlah yang mengerjakan transformasi di dalam diri kita dan memberikan power within us. Hal itu menyanggupkan kita tampil percaya diri, mantap, arif dan bersedia menjadi model.
Kuasa Bapa, Anak dan Roh Kudus di dalam serta melalui kitalah yang memunculkan kharisma dan menuntun kita kepada kepribadian yang matang, dewasa, sebagaimana cita-cita profesi keguruan yang dikemukakan di atas. Tetapi, untuk apa kita mengalami kuasa ilahi dari atas itu? Jawabnya, oleh kuasa dan wibawa-Nyalah kita akan dimampukan untuk banyak perkara, antara lain:
1) Mengatakan ya bila ya dan tidak bila tidak; agar kita tidak mengkompromikan kebenaran dengan kepalsuan; tetap berdiri dalam kebenaran Injil.
2) Menghadapi kuasa roh-roh jaha, roh-roh wilayah (Ef 6:11-13); di masyarakat banyak orang kesurupan di sekolah. Mengapa? Apa peran kita?
3) Menghadapi rejection, misunderstanding, isolation; Anak-anak didik butuh pertolongan gurunya menghadapi pelecehan dari teman-teman juga dari guru yang kurang beres penghargaan dirinya.
4) Mengajar dengan tepat, benar, bermakna. Mengajar yang bermakna berlangsung ketika kita membuka ruang batin untuk kehadiran orang lain, kemudian terjadilah relasi akrab dan dialogis.
5) Menolak godaan di tengah pencobaan. Kita hidup di tengah godaan materialisme, dimana ukuran sukses adalah kelimpahan uang dan harta. Tuhan dan pelayanan menjadi seperti instrumen untuk meraihnya. Padahal, cara demikian tidak benar!
5- Penutup.
Saran saya, kita harus giat memberitakan Injil, kekuatan (dunamis) Allah yang membawa keselamatan (Rom 1:16,17). Kematian dan kebangkitan Kristus untuk penebusan dosa-dosa kita serta pembenaran kita di hadapan Allah merupakan intisari Injil (1 Kor 15:3,4; 1 Ptr 2:24; Rom 3:24-26). Itulah yang memberikan makna dalam hidup. Melalui pengajaran Agama Kristen (PAK) berita Injil harus jelas! Pelajaran PAK jangan sampai hanya menjadi percakapan masalah etika, moral, nilai hidup belaka (informing process). Percakapan terhadap Injil juga harus menggema, agar anak didik percaya kepada Yesus dan mengalami penemuan makna hidup atau transformasi (transforming life). Pendekatan pribadi (konseling) harus kita upayakan untuk menuntun orang percaya Injil Yesus.
Untuk mengalami kuasa Tuhan, kita patut meningkatkan penyerahan diri kepada Tuhan melalui doa dan saat teduh pribadi[5]. Juga melalui aktivitas saling mendoakan, menopang, meneguhkan, mengakui, melayani. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya (Amsal 27:17). Kita tidak dapat maju sendirian melainkan bersama teman, kawan, pasangan. Mereka pun tidak dapat maju tanpa kita dan sesama yang lain. Rahasia kekuatan para rasul di masa lalu ialah ketika mereka dalam persekutuan yang dinamis, saling membangun dan menguatkan.
Pandangan, pemahaman kita mengenai kuasa dan wibawa (kharisma) juga harus berubah, agar tidak diwarnai oleh pengaruh kepercayaan animisme, dinamisme atau naturalisme serta materialisme-humanistik. Ajaran firman Tuhan mengenai hubungan kita dengan diri sendiri, dengan orang lain, dengan pekerjaan, dengan benda (harta) dan kedudukan, patut mengalami transformasi. Ketika Yesus oleh Roh-Nya hadir, berkarya dalam hidup kita maka pikiran kita diperbarui berdasarkan nilai-nilai Sabda tertulis. Hadirnya Tuhan dalam hiduplah membuat kita mentransfer nilai-nilai hidup secara benar dan penuh wibawa. Jadilah terus manusia pembelajar, yang berguru kepada Yesus, masuk dalam program kemuridan-Nya (Mat 11:29-30). Selamat melayani, Soli Deo Gloria!
Tiranus, Bandung
B.S.Sidjabat
[1]Untuk acara bersama sejumlah alumni Institut Alkitab Tiranus, di Jakarta, Senin, 9 Maret 2009; dikembangkan dari materi diskusi bersama guru-guru Sekolah Kristen Dian Mas, di Bandung, Jumat 7 Maret 2009.[2] Dalam masyarakat Batak (Toba) dikenal konsep sahala yang artinya adalah wibawa, kharisma. Orang yang marsahala (punya wibawa) sangat dihormati seperti Raja Sisingamangaraja XII dahulu. Orangtua yang berhasil hidupnya (kaya), banyak keturunannya yang berkedudukan dan ternama, akan dianggap marsahala. Kalau ia mati, maka upacara adat besar dilakukan untuk memperoleh tua (berkat) dan sahala daripadanya. Kalau ada orang mengalami peristiwa berat seperti luput dari kecelakaan yang mendatangkan maut, atau rumahnya terbakar, maka roh (tondi) orang tersebut harus dikuatkan kembali dengan upacara adat (tradisi), disebut mangupa tondi. Orang hidup memiliki tondi dan sahala, dan kalau mereka mati yang tersisa adalah sahala saja.
[3]Menurut Vine’s Dictionary of The New Testament, ada empat istilah terkait dengan kuasa. Pertama, istilah dunamis berarti kemampuan (ability), kekuatan (might) untuk melakukan perkara-perkara besar (bd. Rom 8:38; 1 Ptr 3:22; Mrk 6:5; 9:39); Yesuslah dunamis dari Allah (1 Kor 1:24); Injil juga dunamis dari Dia (Rom 1:16). Roh Kudus memberi dunamis (Kis 1:8). Kedua, istilah exousia mengandung arti wewenang, otoritas, kuasa untuk memerintah, sebagai tugas Allah (Luk 12:5;22:25 Ef 3:10; 6:12). Ketiga, istilah ischus menyatakan dorongan kemampuan (ability force), kekuatan (strength) (2 Tes 1:9). Istilah lainnya, kratos, mempunyai makna penguasaan (dominion); Allah pemilik kuasa kekal (1 Tim 6:16); Iblis punya dominios atas maut tetapi dikalahkan Kristus (Ibr 2:14); ketika kita percaya dominion Allah berlaku atas kita (Ef 1:19; 6:10).
[4]Karya Charles Karft, Christianity With Power (Servant Publications, 1989) sangat memberkati saya dan bagus dalam memberikan petunjuk bagaimana kita menikmati kuasa dari Tuhan dalam hidup dan pelayanan.
[5]Vine’s Dictionary mengingatkan bahwa di dalam Alkitab sejumlah kebenaran tentang kuasa dapat kita pelajari, yaitu: 1) bahwa kuasa itu bersumber dari Allah Tritunggal; 2) kuasa itu dinyatakan Allah dalam memelihara dan menguasai ciptaan; 3) kerap Allah menyatakan kuasa secara khusus (kuasa ilahi); 4) kuasa ada pada mahluk-mahluk ciptaan Tuhan termasuk pada ciptaan tak bernyawa (inanimate creature) (energi potensial???); 5) kuasa diberikan kepada manusia tetapi sering disalahgunakan; 6) kuasa diberi Allah bagi orang percaya oleh Roh Kudus untuk melaksanakan tugas dan panggilannya, serta bagi kemuliaan-Nya!