Archive for Umum

PRINSIP PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI

PRINSIP PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI

DALAM PEMBELAJARAN[1]

(B.S.Sidjabat, Ed.D)

Pengantar

Mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi pada jenjang program diploma atau sarjana umumnya berusia antara 18-24 tahun. Ahli psikologi perkembangan mengkategorikan kelompok usia ini sebagai dewasa awal (early adults). Gormly & Brodzinski menyatakan bahwa pada usia ini orang muda memasuki periode pengambilan keputusan, dapat dianggap sudah dewasa namun belum mengambil banyak peran orang dewasa. “Youth age is an ‘optional’ period of development in which an individual is legally an adult but has not yet undertaken adult work and roles,” demikian dituliskan (1993:396). Read the rest of this entry »

CERMIN BESAR BAGI SEKOLAH ALKITAB/TEOLOGI

CERMIN BESAR BAGI SEKOLAH ALKITAB/TEOLOGI

Oleh Dr. Purnawan Tenibemas

 

Pengantar

Seperti halnya sebentuk cermin menghadirkan gambar dari segala hal yang ditampilkan di depannya. Tampilan gambar itu begitu nyata dan tidak bisa diubah kecuali sesuatu yang tampil di depannya yang diubah. Bila seseorang bercermin, tampilan gambar dalam cermin itu menunjukkan diri orang tersebut apakah yang bersangkutan sudah patut atau masih ada hal-hal yang perlu dirapihkan. Mungkin rambutnya belum tersisir rapih, atau bedaknya belum rata, bisa jadi jerawatnya belum tersembunyi cerminlah yang menolong orang itu untuk mematutkan diri. Saat seseorang bercermin ia telah memiliki anggapan yang menjadi patokan kepatutannya. Dengan patokan itulah ia mematutkan diri.

Tulisan ringkas ini diharapkan bisa menghadirkan fungsi cermin tersebut. Siapa tahu tulisan ini bisa bermanfaat bagi Sekolah Alkitab/Teologi (SA/T) terutama untuk “mematutkan” diri sehingga dapat menjadi berkat lebih besar lagi bagi pelayanan Tuhan di Indonesia. Tulisan ini akan mencoba menampilkan “sosok” sebaiknya dari sekolah Alkitab/Teologi yang saya nilai ideal. Dengan mengingat “sosok” tersebut diharapkan para pelaksana SA/T saat bercermin dan mungkin tertantang untuk mematutkan diri menuju “sosok” ideal tersebut.

SA/T adalah satu lembaga pendidikan formal yang didirikan untuk menyiapkan para calon pelayan Tuhan bagi pelayanan gerejawi. Berkenaan dengan beragamnya kekhususan pelayanan gerejawi itu telah hadir pula beragam tingkatan dan/atau jurusan jurusan dalam sekolah Alkitab/teologi tersebut. Tentu saja SA/T harus menetapkan tujuan yang hendak dicapainya. Tujuan ini merupakan pedoman operasional dari pedoman konseptualnya yang dirumuskan sebagai visi.

Agar tujuan SA/T itu tercapai dan lulusan SA/T itu sanggup memenuhi panggilan pelayanan gerejawi yang menantinya maka dalam proses pembinaannya haruslah dijaga agar visi SA/T itu tetap jernih dan sesuai dengan tantangan yang menjadi inspirasinya. Pengelola SA/T harus pula bertaat asas pada visi yang ditetapkan SA/T itu. Penyeleksian calon siswa/mahasiswa dan tata laksana pembelajaran perlu pula mendapat perhatian yang memadai. Hal-hal ini dan beberapa penunjang lainnya akan saya papar lebih jauh dalam artikel ini.

Visi

Pendiri bisa juga para pendiri SA/T seharusnya memiliki visi yang jelas sebelum SA/T itu didirikan, bahkan SA/T seharusnya didirikan untuk mewujudkan atau menjawab visi. Visi itu biasanya khas. Bisa jadi visi ini datang atau terinspirasi oleh kebutuhan tertentu dalam konteks wilayah atau kondisi tertentu. Bisa pula visi lahir karena terinspirasi atau dikuatkan oleh bagian firman Tuhan tertentu. Namun tidak jarang SA/T didirikan karena “ikut-ikutan”. Misalnya, sinode salah satu gereja telah memiliki SA/T maka sinode atau denominasi gereja lain membangun pula SA/T. Dalam hal ini paling tidak ada kesan “ikut-ikutan”. Bisa pula seseorang “terpanggil” atau memiliki karunia mengajar, namun merasa tidak cocok dengan SA/T yang telah ada maka ia pun mendirikan SA/T baru. Namun demikian semua dorongan itu adalah sah. Visi pun dirumuskan berdasarkan inspirasi atau dorongan yang diyakini oleh pendiri SA/T itu. Visi itu bisa lahir dari Tuhan, bisa pula dari obsesi ataupun hasil manipulasi pendirinya, hal itu adalah hal lain. Tulisan ini tidak masuk ke bidang itu.

Visi akan menjadi pendorong konseptual dari SA/T itu. Tanpa visi bisa jadi arah SA/T itu “berkelok-kelok”. Namun sama halnya dengan institusi lainnya dalam pelayanan gerejawi visi itu bisa berubah atau diubah secara sengaja oleh pengelola SA/T itu. Mungkin juga bukan diubah melainkan disesuaikan. Hal ini pun sah saja. Namun bagaimana pun visi harus ada.

 

Tujuan

Visi SA/T itu perlu dijabarkan dalam tujuan. Bila visi adalah pendorong atau pedoman konseptual, tujuan adalah sasaran operasional. Tujuan ditetapkan untuk menggenapi atau menjawab tantangan, bisa juga untuk mengejawantahkan visi maka dirumuskanlah tujuan. Sama halnya dengan visi, tujuan itu harus jelas dan tentunya tidak boleh bertentangan dengan visi SA/T itu. Bila rumusan tujuan itu jelas maka untuk mencapainya menjadi lebih mungkin. Idealnya semua orang yang terlibat dalam tatalaksana SA/T itu harus memiliki keterikatan kuat terhadap visi dan tujuan SA/T itu.

Tata Laksana (Misi)

Tujuan SA/T itu akan ternyata di dalam kertas, misalnya SA/T itu bertujuan untuk “mencetak” gembala sidang yang berkarakter Kristus. Bisa juga SA/T itu bertujuan untuk membina calon pendidik yang memahami konteks, atau pemimpin umat yang memahami tren-tern global. Untuk mencapai tujuan itu SA/T menetapkan misinya. Misi ini adalah tatalaksana operasional dari SA/T itu. Pada tahap ini dirumuskan program ataupun tingkat pendidikan. Misalnya SA/T sederajat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (Sekolah Alkitab Pratama) atau setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (Sekolah Alkitab Madya). Bisa jadi SA/T itu menyelenggarakan program tingkat Perguruan Tinggi; baik program Diploma maupun sarjana, bahkan mungkin tingkat pascasarjana.

Misi SA/T itu selain menetapkan program yang tentunya seirama dengan visi dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, bisa jadi pada tiap tahap/tingkat pendidikannya atau hanya sebagainnya menetapkan pula jurusan yang tentu hal ini pun harus seirama dengan visi dan tujuan SA/T itu. Ragam jurusan bisa pula dipadu dengan tingkatan pendidikan dan paduan keduanya akan menghasil banyak kemungkinan.

Sebagai contoh, misalnya satu SA/T sebagai jawab atas panggilan yang tercermin pada visinya menetapkan kekhususan untuk “mencetak” para gembala sidang untuk satu wilayah yang luas dan beragam latar belakang. Maka misi sekolah itu dijabarkan menjadi: (1) Program pendidikan tingkat pratama yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan jemaat pedesaan yang pada umumnya beranggotakan para petani, peladang yang tingkat pendidikan formalnya hanya setingkat Sekolah Dasar. Bisa jadi misi pendidikan untuk tahap ini dalam kurikulumnya dipadukan dengan kurikulum penyuluh pertanian.

(2). SA/T itu menetapkan pula program tingkat madya dengan sasaran untuk mencetak para calon pemimpin yang lebih terdidik untuk menjadi gembala sidang dalam pelayanan pedesaan dan kota kecamatan. Pemimpin ini diharapkan juga bisa menjadi pembina untuk beberapa jemaat desa yang digembalakan para alumni program pratama. (3). Ditetapkan pula program sarjana yang diarahkan untuk mencetak para calon gembala sidang kota yang lebih besar yang anggotanya lebih terdidik, dan untuk menjawab kebutuhan kepemimpinan yang lebih luas dari para alumni pendidikan tingkat madya. Dst.

Contoh di atas adalah SA/T yang menyelenggarakan tiga level pendidikan dalam misinya namun dalam satu jurusan yaitu jurusan penggembalaan. Bisa pula satu SA/T menetapkan misi pembinaannya seperti SA/T di atas namun dalam jurusan berbeda, misalnya jurusan Pendidikan Kristen sebagai jawab atas kebutuhan guru agama di tingkat SD, SLTP, ataupun SLTA. Sekalipun demikian jurusan Pendidikan Kristen bisa pula tidak hanya untuk “mencetak” calon guru agama, melankan diperkaya pula dengan mengarahkan siswa/mahasiswanya untuk menjadi Pembina kategorial jemaat.

Contoh lain adalah SA/T yang menyelenggarakan misalnya level pendidikan tingkat sarjana. Tentu program tersebut diselenggarakan untuk menjawab visi SA/T itu. Misi pendidikan program sarjana ini pun bisa hanya dalam satu jurusan atau beberapa jurusan. Hal itu bergantung pada visi dan tujuan SA/T bersangkutan.

Contoh-contoh di atas menunjukkan kepada kita betapa beragamnya tatalaksana SA/T tersebut. Tentu saja hal membuka peluang dan pilihan kepada gereja untuk mengirim calon “pengerja”-nya ke SA/T yang tepat dengan kebutuhan gereja tersebut. Keragaman SA/T ditambah lagi dengan “warna” teologi dari pendiri SA/T. Tidaklah heran bila setiap denominasi menghendaki memiliki SA/T-nya sendiri dengan alasan agar “warna” teologi denominasi itu dibekalkan kepada para peserta didiknya.

Kurikulum

Dalam melaksanakan misinya setiap SA/T itu harus menetapkan kurikulum pengajaran yang disesuaikan dengan jenjang dan jurusan yang diselenggarakannya. Kurikulum ini terjabar dalam satuan-satuan pengajaran yang terbangun pula atas mata-mata pelajaran/kuliah. Satuan-satuan pengajaran dan mata-mata pengajaran masing-masingnya meliputi pula tujuan yang hendak dicapainya. Tentu semuannya harus sejalan dengan visi dan tujuan SA/T.

Kurikulum yang ideal bagi satu SA/T harus mengandung empat elemen yang saling menunjang untuk membekali siswa/mahasiswa SA/T itu. Setiap elemen tersebut tentu mengandung tujuan yang khas namun keempatnya terkait sedemikian rupa membangun satu kesatuan yang solid. Dr. Holland saat menulis desertasinya di Fuller Theological Seminary merumuskan mutlaknya kehadiran keempat elemen tersebut. Lantas rumusan Hollad itu diadaptasi oleh Dr. Clinton yang kemudian dikenal dengan nama Holland’s Two-Track Analogy Adapted Model. Ilustrasi di bawah ini menggambarkan hal yang dimaksud dalam model tersebut.

clip_image002_0000.jpg

(adopsi dari Clinton 1984:40)

Ilustrasi jalan kereta api di atas terbangun sebagai pengembangan dari teori Dr. Ted Ward yang dikenal dengan nama Ward’s Split-Rail Fence Analogy. Ilustrasi Holland di atas terbangun atas sepasang rel, rel pertama dimaknai sebagai input dan rel kedua dimaknai sebagai pengalaman pelayanan. Bantalan jalan kereta api dimaknai sebagai refleksi dinamis yang terjadi pada setiap pertemuan bisa pertemuan kelas/kuliah bisa juga diskusi berkala, itu sebabnya diilustrasikan dengan bantalan yang berderet sebagai gambaran deretan pertemuan berkala. Sedangkan kerikil yang menjadi alas jalan kereta api itu mengilustrasikan pembinaan rohani terhadap para siswa/mahasiswa di SA/T itu.

(1). Input yang dimaksud dalam ilustrasi di atas adalah bahan pengajaran/kuliah yang disampaikan oleh pendidik/dosen dari SA/T itu. Bahan pengajaran yang disiapkan dengan baik oleh dosen termaksud tentu menyangkut pula tujuan kuliahnya, metoda yang dipilihnya dan perangkat-perangkat penunjangnya. Setiap mata pelajaran/kuliah itu sebenarnya harus pula menyandang baik unsur kognitif unsur afektif dan unsur konatif. Peningkatan pengetahuan dan pengertian (kognitif) diimbangi dengan perubahan positif dari sikap hidup dan peningkatan mutu rohani (afektif) para siswa/mahasiswa, serta memberi ketrampilan tertentu yang relevan dengan bahan pengajarannya (konatif).

Memang kuantitas tiga unsur di atas bisa berbeda untuk setiap mata kuliah. Ada mata kuliah yang bobot kognitifnya lebih besar dibanding bobot afektif ataupun konatif. Mata kuliah lain bisa jadi unsur afektif atau konatifnya yang menonjol. Namun ketiganya serangkai yang oleh Holland disebut sebagai tujuan pengajaran yang digambarkan sebagai lingkaran:

clip_image004_0000.jpg

 

(2). Pengalaman Pelayanan yang dimaksud dengan pengalaman pelayanan adalah peluang para siswa/mahasiswa untuk mengalami pemraktekan bahan yang telah diterimanya dalam pertemuan berkala baik yang terstruktur maupun yang tidak terstruktur di dalam kehidupan nyata. Bisa juga pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman pelayanan dari mahasiswa yang menyangkut karunianya dan tanggung jawab pelayanannya di luar kelas. Unsur kedua ini banyak dimiliki oleh mahasiswa yang telah terlibat dalam pelayanan sebelum menjadi mahasiswa. Hal-hal ini akan memperkaya input bukan saja bagi siswa/mahasiswa bersangkutan melainkan juga rekan-rekannya yang lain bahkan dosennya. Input dan pengalaman pelayanan berjalan beriring untuk memberi keseimbangan dan menjaga bahwa input itu relevan dalam pelayanan nyata.

(3). Refleksi Dinamis adalah pertemuan berkala yang wujudnya bisa pertemuan kelas, diskusi berkala ataupun tutorial. Namun pertemuan berkala itu diharapkan bukan sekedar ajang dosen menyampaikan informasi kognitif, melainkan pertemuan berkala itu berjalan dengan dinamis, hidup sebab pengalaman pelayanan/lapangan dari siswa/mahasiswa turut memperkaya input dosen. Dengan kata lain pertemuan berkala ini berkaitan dengan membangun korelasi antara input dengan pengalaman lapangan serta pembinaan rohani (spiritual formation).

(4). Pembinaan Rohani adalah segala kegiatan yang difasilitasi SA/T untuk membina dan meningkatkan kualitas kerokhanian siswa/mahasiswanya. Unsur ini menjadi mutlak mengingat sasaran pendidikan SA/T adalah untuk mencetak pelayan Tuhan yang tentunya mutu kerokhaniannya harus tinggi. Kualitas kerokhanian yang tinggi akan memberi dampak kuat dalam pelayanannya. Belum tentu pembinaan ini harus diwadahi dalam satu mata kuliah, seharusnya setiap mata kuliah sudah pula mengandung unsur ini yaitu dalam unsur afektif. Pembinaan rohani bisa pula dijabarkan dalam beragam aktifitas, semisal dorongan untuk menikmati saat teduh pribadi, ibadah kelompok/komunitas, persekutuan kampus, perwalian dan aktifitas lainnya yang dihadirkan untuk membina kerokhanian siswa/mahasiswa.

Unsur penting lain dalam pembinaan rohani adalah kehadiran teladan hidup rohani dari para dosen dan pembina lainnya baik di kampus maupun di luar kampus, dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dosen memperlakukan mahasiswanya di ruang kuliah ataupun di luar kuliah akan turut memberi andil dalam pembinaan rohani ini. Hal ini tergolong hidden curriculum, kurikulum yang tersembunyi yang tidak terstruktur namun berpengaruh kuat pada kehidupan mahasiswanya. Seorang dosen yang saleh dan tulus akan menjadi berkat besar bagi para mahasiswanya. Bila kesalehan itu merupakan kesalehan yang bersukacita, besar kemungkinan akan menjadi teladan yang ideal vagi para siswa/mahasiswanya.

Tata Laksana Seutuhnya

Sekarang saya akan meninjau tatalaksana SA/T secara utuh bukan hanya proses pembinaan lewat pengajaran sebagaimana telah diurai di atas, melainkan juga proses lainnya yang bersangkut paut dengan proses pengajaran tersebut. Proses lainnya itu adalah proses perekrutan calon mahasiswa, proses evaluasi, dan proses menjaga kualitas termasuk menjaga visi dan tujuan SA/T. Dalam bagian ini saya akan meminjam gambar dari Dr. Clinton seperti di bawah ini:

clip_image006_0000.jpg

Gambar di atas diadaptasi dari proses industri pabrik maka gambaran pendidikan SA/T secara utuh ini disebut The Adapted Systems Model. Gambaran ini memperlihatkan mulai dari proses perekrutan calon siswa/mahasiswa, proses pembinaannya hingga satu hari kelak diwisuda dan diserahkan kembali kepada gereja untuk dilibatkan dalam pelayanan gerejawi. Saat dikembalikan kepada gereja para wisudawan itu telah diperlengkapi untuk pelayanan. Mereka berbeda dengan keadaan saat mereka baru masuk ke dalam proses ini. Gambar di atas akan juga mengajak kita untuk memberi perhatian pada proses masing-masing bagian namun juga melihat korelasi dari setiap bagiannya dengan tetap memedomani visi dan tujuan SA/T itu.

(1). Incoming Partisipants, hal ini berkenaan dengan perekrutan siswa/mahasiswa. Perekrutan mahasiswa ini tidak bisa lepas dari visi dan tujuan SA/T. para calon siswa/mahasiswa itu akan dibina sesuai dengan visi dan tujuan SA/T serta sesuai dengan tingkat dan jurusan SA/T itu. Perekrutan tanpa memperhatikan visi dan tujuan SA/T akan menghadirkan banyak kekecewaan bagi kedua belah pihak yaitu pihak pengelola SA/T maupun pihak siswa/mahasiswa.

Persyaratan dalam perekrutan harus ditetapkan seirama dengan visi dan tujuan SA/T. Sebab bila tidak demikian teramat mungkin hasilnya tidak memenuhi harapan dan bisa jadi tidak bisa pula memberi andil yang berharga dalam pelayanan yang menantinya. Semisal pabrik pensil bila bahan bakunya bermutu rendah maka pensil yang dihasilkannya pun bermutu rendah. Memang gambaran ini tidak 100% tepat untuk pembinaan di SA/T sebab dalam proses pembinaan di SA/T terlibat unsur Tuhan dan kuasa Roh Kudus yang bisa saja mengubah calon mahasiswa “kurang” bermutu menjadi alumni teramat bermutu.

(2). Total Training Process hal ini berkenaan dengan proses pembinaan secara luas yang terkait dengan kurikulum juga hidden curriculum, para dosennya termasuk kualitas para dosen ini, sumber-sumber pendukung, metodologi, pendanaan termasuk juga hambatan-hambatan. Jelas proses ini mecakup segala elemen yang akan berdampak kepada siswa/mahasiswa yang dibina di SA/T itu (Clinton 1984:54). Di sinilah teori Holland yang telah dibahas di atas diterapkan.

(3). Outgoing Participants, mereka adalah para alumni dari SA/T yang telah menuntaskan persiapan pelayanan mereka di SA/T. Diharapkan sesuai dengan kebutuhan pelayanan yang menanti mereka.

(4). Communication Network Control, inilah bagian dari SA/T yang merupakan sumber informasi sekitar potensi siswa/mahasiswa, keadaan mahasiswa saat menjalani proses pembinaan, juga informasi tentang fungsi dari segenap unsur dari pembinaan ini. Bagian ini juga yang mencari tahu pelayanan para alumninya.

Sedangkan arah-arah panah dari setiap kotak pada diagram di atas menyatakan keterkaitan dari kotak-kotak tersebut. Hubungan kotak pertama (incoming participants) dengan kotak keempat (Communication Network Control) menunjukan keterkaitan keduanya dalam perekrutan calon mahasiswa. Hubungan keduanya bisa saja menghasilkan keputusan yang mengubah sistem pembinaan disesuaikan dengan potensi calon yang direkrut, atau mengetatkan persyaratan calon hanya mereka yang dinilai bisa memasuki sistem yang diberlakukan di SA/T itu serta hal-hal lain yang terkait dengan perekrutan ini.

Hubungan Kotak dua (total training Process) dengan kotak empat yang disebut formatif feedback network menyatakan aliran informasi keduanya yang bisa saja menghasilkan keputusan menyesuaikan atau mengubah proses pembinaan SA/T itu. Hal ini termasuk perubahan kurikulum, metode, bisa juga meningkatkan mutu dosen atau mengganti dosen yang dinilai kurang menunjang proses pembinaan ini. Termasuk dalam hal ini peluasan sumber-sember penunjang, pecarian sumber dana dsb.

Sedangkan summative feedback network menyatakan masuknya informasi ke SA/T dari fakta nyata hasil pembinaan selama ini. Bisa saja bila hasil tersebut kurang memuaskan membawa kepada keputusan untuk mengubah sistem namun tentu saja hanya berlaku bagi siswa/mahasiswa angkatan baru.

Para Pelaksana

Semua yang telah diurai di atas bisa berjalan bila ada para pelaksana. Para pelaksana SA/T ini termasuk unsur pimpinan SA/T, merekalah yang mengelola dan menjaga visi dan tujuan SA/T. Mereka pula yang merekrut para dosen sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan SA/T. para dosen tersebut tentu harus diupayakan yang bersedia melaksanakan visi dan tujuan SA/T serta memiliki kemampuan untuk melaksanakan misi SA/T.

Para pelaksana SA/T ini termasuk juga para dosen dan nondosen yang merupakan unsur pelayan penunjang yang sangat diperlukan dalam menjalankan misi SA/T. Idealnya semua unsur harus memiliki rasa memiliki dan siap berjalan bersama dengan para pelaksana lainnya dengan sehati. Mutu kerokhanian para pelaksana haruslah memadai sebab semuanya menghadirkan hidden curriculum dalam kehidupan kampus.

Demi kelangsungan dan kelancaran pelaksanaan misi SA/T adalah wajar bila ditetapkan ketentuan-ketentuan yang relevan dengan visi, tujuan, misi dan keberadaan SA/T itu. Ketentaun itulah yang menjadi pedoman tata laksana SA/T. Tentu saja semua unsur pelaksana SA/T harus menaati ketentuan tersebut.

Tentu para pelaksana ini harus mempertanggungjawabkan pelayanannya kepada Tuhan yang memanggilnya dan yang memberi kepastian kepadanya untuk bergabung dengan SA/T itu Selain itu wujud pertanggungjawabannya harus pula diberikan kepada pihak-pihak yang berhak menerima pertanggungjawaban tersebut.

 

Penutup

Sebagaimana telah dinyatakan pada bagian pengantar. Saya berharap artikel ini bisa menjadi cermin besar bagi kita para pelaksana SA/T. Di atas segalanya SA/T-SA/T ini kiranya bisa memberi andil lebih besar lagi bagi pelayanan gereja di Indonesia yang besar ini. Tuhan memberkati.

Catatan Referensi

Clinton, J. Robert

1984 Leadership Training Models. Altadena, CA: Barnabas Publishers.

Holland, Fred

1978 ” Theological Education in Context and Change” Desertasi yang tidak diterbitkan.

Fuller Theological Seminary, Pasadena, CA.

Ward, Ted

T.t. “The Split-Rail Fence: Analogy for Professional Education”. Dalam Extension

Seminary. No 2.