Evaluasi Diri: Model Kepemimpinan Manakah Yang Kita Gunakan Saat Ini?

 

Evaluasi Diri: Model Kepemimpinan Manakah Yang Kita Gunakan Saat Ini?

 

(Sridadi Atiyanto)

Saat ini banyak beredar buku-buku tentang kepemimpinan yang ditawarkan. Banyak hal khusus yang dapat kita pelajari, antara lain tentang pengambilan keputusan (decision making), interaksi antara pemimpin dengan yang dipimpin ( leaders-followers interaction ), kewenangan pemimpin, kepemimpinan hamba, dan masih banyak lagi masukan (input ) yang bisa kita pelajari. Tetapi untuk ringkasnya kita dapat mempelajari tiga perkara penting dari pelajaran tentang kepemimpinan, yaitu Watak Pemimpin (Personality traits of leaders), Kepemimpinan Situasional (situational /transactional leadership ), dan Kepemimpinan Transform-asional (transformational leadership). Ketiganya merupakan sumbangan bagi dunia kepemimpinan yang saling melengkapi.

Pertama, teori kepemimpinan yang menyoroti Watak Pemimpin (Personality traits of leaders). Sudah tentu kita setuju dengan pendapat mereka bahwa jatuh bangunnya sebuah organisasi atau lembaga sangat dipengaruhi oleh watak pemimpinnya . Itulah sebabnya para theoritisi mulai mengada-kan riset dan mendaftarkan sejumlah karakter penting dari para pemimpin yang berhasil. Dalam riset mereka, mereka membedakan antara pemimpin dengan non-pemimpin melalui: kejujuran dan integritas, tingkat energi yang dikeluarkan, ambisi dan keinginan untuk memimpin, kecerdasan ( intelligence ), percaya diri, dan pengetahuan yang relevan dengan tugasnya (Kilpatrick and Locke, 1991, Stogdill, 1974).

Hasil studi yang dilakukan oleh Kouzes dan Posner (1993) menunjukkan bahwa ada enam karakteristik yang dominan pada para pemimpin yang sangat dihargai oleh mereka yang dipimpin, yaitu kejujuran, memiliki pandangan ke masa depan, memberikan inspirasi, memiliki kemampuan memimpin (kompeten), berperilaku adil , dan bersifat mendukung ( supportive ).

Saya percaya pemimpin yang dipenuhi Roh hingga buah Roh sangat nyata dalam kehidupan-nya sungguh berpengaruh kuat dan luas dalam kepemimpinan di gereja. Mari kita sadari bahwa kepemimpinan rohani sangat menekankan “ memimpin dengan wibawa rohani ,” yang artinya lebih banyak mendasar-kan kepemimpinan pada peng-aruh rohani bukan pada wibawa formal atau posisional. Kepemimpinan rohani selalu menyentuh karakter atau watak sang pemimpin.

Dalam kepemimpinan, ke-cerdasan otak (IQ) memang diperlukan tetapi kecerdasan emosi (EQ) lebih diperlukan lagi. Orang yang memiliki kecerdasan otak (inteligensi) tinggi akan menjadi begitu bodoh manakala ia tidak dapat mengendalikan emosinya, kebijaksanaannya seperti hilang tanpa bekas. Tanpa kecerdasan emosional, nota bene termasuk ketenangan batin dan ke-mampuan mengendalikan diri (emosi), mustahil kita bisa berpikir jernih. Paul Keating (PM Australia terdahulu) dikenal sebagai pemimpin yang memiliki intelegensi tinggi, sangat cerdas, namun dinilai sebagai orang yang kecerdasan emosionalnya (EQ) kurang sehingga hal tersebut membuatnya tersisih dalam pemilihan Perdana Menteri Australia berikutnya. Pemimpin-pemimpin yang berhasil menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecerdasan otak dan emosi yang tinggi ( silakan lihat grafik di bawah ).

clip_image003_0003.png

Saya pribadi berpendapat bahwa kecerdasan emosional sangat erat hubungannya dengan kecerdasan spiritual (SQ), walaupun perbedaannya sangat amat tipis namun bisa dibedakan sebab SQ mem-punyai akar dari kedekatan seseorang dengan Tuhan Allah sendiri. Buah Roh menjadi identifikasinya.

Kedua, teori kepemimpinan yang menekankan tentang gaya memimpin. Dalam hal ini mereka menggunakan istilah Situational/Transactional Leadership . Teori yang dicetuskan oleh Ken Blanchard ini menggunakan pendekatan dua dimensi supportive dan directive untuk menjelaskan empat gaya kepemimpinan yang sangat memperhatikan situasi/kondisi dan kesiapan mereka yang dipimpin.

Pada prinsipnya tidak ada kepemimpinan kecuali ada yang mau mengikuti . Kesiapan pengikut dalam Kepemimpinan Situasional didefinisikan sebagai seberapa jauh seorang yang dipimpin memperlihatkan kemampuan dan kemauannya untuk melaksanakan tugas yang diembankan kepadanya. Jangan kita lupa bahwa orang cenderung berbeda tingkat kesiapannya ( readiness ) dalam melakukan tugasnya, itu sangat tergantung dari tugas yang diembannya.

Pada grafik di bawah ini digambarkan bahwa gaya (style) memimpin tergantung pada kesiapan (readiness) atau kedewasaan mereka yang dipimpin. Misalnya mereka yang dipimpin telah mencapai tingkat “ mampu dan mau atau mampu dan percaya diri ” (R4) maka gaya kepemimpinan yang tepat adalah pendelegasian (S4) di mana pengawasan (perilaku hubungan) rendah dan peng-arahan dari pemimpin (perilaku tugas) juga rendah; sebaliknya jika kedewasaan pengikut baru mencapai R2 ( tidak mampu tetapi mau atau tidak mampu tetapi memiliki percaya diri tinggi ) sang pemimpin akan lebih banyak mengarahkan/ melatih dan mendukung mereka (S2 bagi mereka yang “ tidak mampu dan tidak mau atau tidak mampu dan ragu terhadap kemampuan mereka sendiri ” (S1), sang pemimpin akan lebih banyak bercerita tentang orang-orang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa walaupun mereka adalah orang yang sangat terbatas kemampuannya, misalnya Petrus, untuk membangkitkan kemauan para pengikut. Sedangkan ke-mampuannya akan ditingkatkan melalui pembelajaran segera setelah kemauan dan percaya dirinya bangkit.

clip_image005_00031.png

Jadi gaya ke-pemimpinan disetiap gereja tidaklah sama, tergantung dari para anggota gereja: sejauh mana kesiapan mereka untuk mengemban tugas pelayanan. Disinilah peran pemimpin gereja nampak jelas, yaitu gaya kepemimpinan macam apa yang akan diterapkan. Keliru memilih dan menerapkan gaya kepemimpin-an akan berakibat merosotnya efektifitas dan efisiensi gereja dalam memenuhi panggilannya. Janganlah menjiplak gaya kepemimpinan gereja lain hanya karena gaya tersebut berhasil dengan gemilang di gereja itu.

Ketiga, Kepemimpinan Transformasional. Teori kepemimpinan jenis ini menjalankan kepemimpinan selangkah lebih jauh yaitu berusaha untuk meningkatkan (men- transformasi -kan) goal-goal pribadi (atau yang hanya terfokus pada tujuan/goal pribadi) kepada tujuan yang lebih tinggi, lebih jauh ke depan, yaitu tujuan atau goal-goal kelompok yang lebih luas, bersifat nasional, bahkan global. Kepemimpinan Transformasi-onal mengkomunikasikan visi yang memberi inspirasi dan mendorong (memotivasi) para pengikut untuk mencapai hal-hal yang bersifat lebih luas, tinggi, dan bahkan luar biasa. Para pemimpin dalam kepemimpinan ini memiliki kemampuan untuk meng-arahkan dan mengatur anggota dan sistemnya sedemikian rupa sehingga semua anggota memiliki integ ritas tinggi terhadap visi dan misi organisasi. Ciri khas dari Kepemimpinan Transformasi-onal adalah bahwa pemimpin sangat memperhatikan kepedulian dan pengembangan para anggotanya, dia mengubah anggota-anggotanya dengan membantu mereka untuk melihat hal-hal yang lama dengan cara pandang yang baru. Pemimpin mampu membuat anggota terpesona, ber-semangat, dan terinspirasi sehingga mereka semakin bersemangat untuk mencapai sasaran (visi) yang telah ditetapkan bersama. Tambahan pula pemimpin mampu membuat visi organisasi jelas dimengerti sehingga menjadi milik setiap anggota, artinya setiap anggota menganggap visi organisasi adalah visinya sendiri, inilah kekuatan dari Kepemimpinan Transformasi-onal. Dan jika sang pemimpin telah tiada atau pensiun ( emeritus ) pengikutnya akan meneruskannya untuk mencapai visi yang terbentang jauh di depan. Mereka tidak akan berhenti mengejar visi organisasi walaupun pemimpin mereka telah berganti dengan pemimpin baru

Sesungguhnya ketiga model tersebut saling melengkapi. Watak sang pemimpin, kesiapan pengikut (anggota), dan pe-ningkatkan anggota sehingga bisa melihat dan memiliki visi organisasi, sangat penting untuk membuat kepemimpinan sebuah organisasi berhasil baik. Jadi tepatlah yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara bahwa pe-mimpin itu harus “ing ngarsa asung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani.” Artinya pemimpin harus menjadi pemimpin, sahabat, dan guru.

Kita dapat membuat ketiga model ini saling berkaitan dan saling menguatkan seperti bagan di bawah ini:

clip_image002_00021.png

Bahan Bacaan dan Acuan:

• The Drucker Foundation, The Organization of the Future, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2001

• Ron Cacioppe, Leadership Moment by Moment, Leadership & Organization Development Journal, 1997

• James A. F. Stoner, Management, New Jersey : Prentice Hall, 1995

• Dr. Djokosantoso Moeljono, Beyond Leadership: 12 Konsep Kepemimpinan, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2003

Leave a Comment

Name: (Required)

E-mail: (Required)

Website:

Comment: