Gempa di Tiranus
Surat Dari Kantor Rektor (DKR)
Salam dalam kasih Tuhan,
Tanggal 2 September lalu, gempa bumi besar melanda Jawa bagian barat. Gempa dengan kekuatan 7,3 SR itu telah menimbulkan kepanikan massal mulai pada pukul 14.55. Walaupun pusat gempanya di kedalaman 49,5 km di lautan Hindia, selatan Jawa dan berjarak sekitar 95 km dari Bandung, ibu kota propinsi Jawa Barat, namun daya rusaknya luar biasa. Gubernur propinsi Jawa Barat menyatakan bahwa 54.171 rumah rusak berat dan lebih dari 100.000 lainnya rusak ringan yang tersebar di empat belas kabupaten di propinsi Jawa Barat. Korban yang meninggal pun melebihi 100 orang, korban terluka lebih dari 1000 orang. Puluhan ribu orang mengungsi dan tinggal di tenda-tenda darurat. Belum lagi mereka yang terguncang secara kejiwaan, sungguh mereka membutuhkan bantuan.
Di antara para korban tersebut terdapat pula orang-orang Kristen Sunda yang tinggal di pedesaan. Di daerah Pangalengan sekitar 2 jam dari Bandung ke arah selatan, paling tidak tiga keluarga Kristen rumahnya rata dengan tanah dan mengungsi ke perkebunan teh serta tinggal di tenda darurat. Seorang pendeta yang juga mentor untuk program Mitra Jamaah gedung gereja bagian belakangnya runtuh. Namun syukur tidak ada korban jiwa di antara mereka.
Lima rumah warga Kristen Sunda di Kampung Dayeuh Landeuh, Desa Panawangan, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis –sekitar tiga setengah jam dari Bandung—hancur. Satu di antara adalah rumah seorang penginjil, Bapak Cahya yang juga seorang mentor untuk program Mitra Jamaah. Kabar dari daerah lainnya belum diperoleh.
Kampus Tiranus sendiri yang terbilang lebih jauh dari pusat gempa mengalami kerusakan di beberapa tempat terutama pada gedung Motekar dan Pariwara. Perpustakaan yang terletak pada lantai tiga Motekar mengalami goncangan hebat, buku-buku berserakan, satu dinding runtuh dan satu dinding lainnya harus dibongkar karena retak hebat dan tidak kuat lagi. Sekat antara balok beton dengan atap sekeliling gedung di beberapa tempat runtuh. Beberapa kantor di gedung Pariwara juga retak-retak dan membutuhkan perbaikan. Satu bagian tembok luar kampus runtuh dan satu bagian lainnya miring.
Walau begitu menggentarkan dan menimbulkan kepanikan sesaat, Puji Tuhan tidak ada warga kampus yang celaka. Saat gempa bumi datang kantor-kantor masih buka dan kuliah sedang berlangsung, bahkan kantor kepala perpustakaan tertimpa rontokan dinding yang menjebol langit-langit. Syukur, kepala perpustaan saat itu sedang memberi petunjuk kepada staf perpustakaan lainnya di ruang lain. Suatu anugerah perlindungan Tuhan yang tidak mungkin dilupakan olehnya. Kini kampus sedang menjalani perbaikan.
Ada lima rumah penduduk sekitar kampus yang runtuh diterpa gempa itu, komunitas kampus juga menggalang dana bantuan bagi perbaikan rumah-rumah yang dihuni oleh anggota masyarakat berpenghasilan rendah itu. Ada juga rumah seorang mahasiswa yang sudah berkeluarga yang tinggal di daerah Bale Endah, Kabupaten bandung yang runtuh terlanda goncangan hebat gempa sore itu. Tentu saudara kita itu membutuhkan bantuan bagi rehabilitasi rumahnya.