Nasihat Bapa Rasuli untuk Jemaat Masa Kini

Nasihat Bapa Rasuli untuk Jemaat Masa Kini

 

(Studi deskriptif naskah-naskah Bapa Rasuli)

(Edi Suranta Ginting)

————————————————————

 

Pendahuluan

Thomas van den End menyebutkan bahwa pada abad kedua, kekristenan memasuki berbagai lingkungan budaya dan bahasa yang mengakibatkan timbulnya berbagai cara yang berbeda untuk mengungkapkan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Menurutnya, paling tidak terdapat empat cara pengungkapan iman kristiani pada kekristenan abad kedua. Pertama, bersifat moralistis yang tampak pada naskah Didakhe. Kedua, bersifat mistis yang tampak pada surat-surat Ignatius, uskup Antiokia. Ketiga, bersifat intelektualistis yang tampak pada tulisan-tulisan Justinus Martir. Keempat, bersifat sinkretis yang tampak pada tulisan Bardaisan.1

Peter Wagner, seorang teoritisi dan praktisi misi dari Fuller Theological Seminary, dalam sebuah wawancara dengan majalah Bahana, setelah beliau menyampaikan ceramahnya di SPGI, Jakarta, Juli 2004 lalu, memberikan pendapatnya tentang strategi pertumbuhan gereja. Paling tidak, saya menangkap dua hal. Pertama ialah bahwa faktor kepemimpinan memegang peranan penting dari dulu sampai dengan sekarang. Kedua demonstrasi kuasa Allah jauh lebih penting daripada dialog teologi. Beliau memberikan argumentasi bahwa perdebatan Rasul Paulus dengan para filsuf Athena hasilnya hampir nol. Pengalaman itulah yang membuat Rasul Paulus kemudian menyatakan bahwa dia tidak lagi berusaha dengan kata-kata hikmat, tetapi dengan kuasa Roh.2

Philip Jacob Spener, seorang pelopor Gerakan Pietisme di Jerman, mengatakan hal yang senada di dalam bukunya Pia Desideria. Spener melihat bahwa cara gereja Protestan menghadapi sekte-sekte dengan sejumlah dogmatika tidaklah tepat. Ia juga melihat bahwa pembinaan jemaat yang terlalu menekankan pengajaran dan dokmatika membuat anggota jemaat cenderung kehilangan semangat iman.[5]

Di dalam cara pandang, diakui bahwa Barat dan Timur memiliki perbedaan. Barat menekankan objektivitas-konseptual, ini atau itu, sedangkan Timur menekankan subjektivitas-relasional, baik ini maupun itu. Ini pun tampak di dalam gereja. Gereja Barat menekankan teologi bagaimana menjadi benar di hadapan Allah, sedangkan Gereja Timur bagaimana menjadi tidak fana kelak.

Salah satu sebab merosotnya kekristenan di Persia ialah karena moralitas dan intelektual orang Kristen yang jauh lebih rendah daripada masyarakat kebanyakan.[6] Padahal salah satu penyebab kekristenan bertahan pada masa penganiayaan di Romawi ialah karena moralitas mereka yang sangat tinggi. Dua contoh ini menegaskan bahwa faktor moral harus tetap menjadi faktor penting di dalam kehidupan kekristenan.

Di dalam sejarah gereja, ada satu masa gereja memberikan tekanan yang cukup kuat pada hal-hal praktis, termasuk hal-hal moral. Salah satu masa itu ialah masa Bapa Rasuli. Semangat iman mereka, ketulusan hati mereka, keberanian mereka menghadapi ancaman kematian, adalah hal-hal yang tetap patut untuk diteladani oleh kekristenan sepanjang masa.

Jadi, uraian singkat di ataslah yang menjadi alasan saya memilih tulisan-tulisan Bapa Rasuli menjadi bahan studi untuk artikel ini. Kekristenan yang menyanjung moral dan rasa cinta yang besar kepada Yesus Kristus, sehingga rela mengikuti-Nya sampai di atas kayu salib.

Pengertian Bapa Rasuli

Bapa rasuli atau bapa-bapa rasuli ialah istilah yang mulai dipakai pada abad ke-17 untuk sejumlah penulis yang paling awal yang tidak termasuk ke dalam kanon Perjanjian Baru. Rentang waktunya tahun 95-150. kelompok ini dibedakan dengan para apologet yang pada pertengahan abad kedua mulai secara sistematis membela iman Kristen. Istilah Bapa Rasuli bukan hanya dalam pengertian ajaran mereka yang ortodoks, melainkan karena kesetiaan mereka meneruskan ajaran para rasul.3

Pada umumnya, tulisan-tulisan Bapa Rasuli bersifat praktis dan menunjukkan masalah konkret sehari-hari setelah masa rasul. Mereka mencoba menyatukan iman dan perbuatan. Inilah kontribusi penting mereka. Mereka lebih dipengaruhi oleh Alkitab dan tradisi Yahudi daripada filsafat Yunani. Jikapun mereka membahas doktrin, tujuannya adalah untuk menyelamatkan gereja dari perpecahan, membersihkannya dari sikap yang tidak pantas, dan mengarahkannya untuk taat kepada otoritas gereja. Mereka menghadapi masalah mereka dengan setia pada tradisi gereja dan ajaran para rasul. Mereka dengan setia memenuhi mandat dari surat pastoral yang ada di PB.4

Dalam ungkapan Watters, masa bapa rasuli adalah masa heroik bukan masa kata-kata; masa prajurit dan bukan penulis; mereka adalah penderita dan bukan pembicara.[7]

Menurut Philip Schaff, bapa-bapa rasuli memiliki hubungan pribadi dengan para rasul. Mereka adalah orang baik yang lebih menekankan ibadah kepada Yesus Kristus daripada tulisan doktrinal. Mereka adalah gembala yang rendah hati yang dibakar oleh rasa cinta kepada Yesus Kristus dan kepada sesama dan berusaha hidup suci dan kudus sebagai upaya mencontohi teladan Yesus Kristus. Hal inilah yang menjadi kekuatan bagi mereka menghadapi penganiayaan.[8]

Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri utama tulisan bapa rasuli ialah:

(a) Menekankan kesalehan hidup, perbuatan baik dalam hidup sehari-hari.

(b) Mereka menganut paham monoteisme dengan ketat dengan tekanan pada Allah yang transenden-imanen. Mereka mengucapkan Allah Tritunggal, tetapi tidak memberikan penjabaran secara teologis mengenai kesatuan dan ketigaan.

(c) Mereka menganut paham keilahian Kristus, tetapi tidak langsung mengatakan bahwa Yesus itu adalah Allah. Mereka juga menekankan kemanusiaan Kristus, tetapi hubungan kedua tabiat Kristus itu tidak mereka bahas.

(d) Mereka meyakini bahwa Yesus adalah juruselamat satu-satunya, tetapi tidak ada penjelasan bagaimana cara seseorang menerima keselamatan tersebut.

(e) Mereka cenderung menerima baptisan sebagai cara menyampaikan karunia keselamatan.

(f) Di antara mereka ada yang menganut paham premilenial dan membedakan gereja dengan Israel. Sebagian lagi, menyamakan Israel dengan gereja dan menganut paham amilenial.

(g) Mereka mutlak percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan yang berotoritas.

(h) Mereka bukanlah teolog yang melahirkan karya-karya teologi yang agung, melainkan adalah pribadi-pribadi yang agung dan gembala-gembala yang baik.

Mengenai tokoh dan tulisan dari bapa rasuli, saya mengikuti urutan yang dipakai dua sumber yaitu Robert C. Walton yang menyebutkan 6 tokoh bapa rasuli, yaitu Clemens dari Roma yang menulis I Clemens. Ignatius dari Antiokia yang menulis 7 surat. Hermas sang Gembala yang menulis Gembala Hermas. Barnabas dari Aleksandria yang menulis Surat Barnabas. Papias dari Hierapolis yang menulis Eksposisi Ajaran Tuhan Kita. Polikarpus yang menulis Surat kepada Jemaat Filipi.[9] Sumber kedua dari Earle E. Cairns yang menambahkan kitab Didakhe dan membagi tulisan-tulisan bapa rasuli ke dalam tiga bagian. Bagian pertama ialah surat-surat, baik dari Clemens dari Roma, Ignatius dari Antiokia, maupun Rasul Barnabas. Bagian kedua ialah kitab apokaliptik, seperti Gembala Hermas. Bagian ketiga ialah kitab Katekisasi.[10]

Mengenal Bapa-bapa Rasuli

Pada bagian ini, saya akan membahas tokoh demi tokoh berikut dengan tulisannya. Referensi dan sumber naskah akan dijelaskan di dalam catatan akhir.

1. Ignatius dari Antiokia[11]

Ignatius, salah seorang murid Rasul Yohanes, adalah uskup di Antiokia. Pada masa penganiayaan Kaisar Trajan, ia ditangkap dan dihukum mati di Roma pada tahun 117. Dalam perjalanan dari Antiokia ke Roma, ia sempat menulis 7 surat kepada jemaat-jemaat yang sangat dikasihinya. Ketujuh surat itu ialah Surat kepada Jemaat Efesus, Surat kepada Jemaat Magnesia, Surat kepada Jemaat Tralles, Surat kepada Jemaat Roma, Surat kepada Jemaat Filadelfia, Surat kepada Jemaat Smirna, dan Surat kepada Polikarpus

Surat kepada Jemaat Efesus terdiri dari sembilan bab yang menekankan dua hal, yaitu pentingnya kesatuan di dalam jemaat dengan memberikan otoritas kepada uskup dan perlunya kewaspadaan jemaat terhadap guru-guru palsu.

Surat kepada Jemaat Magnesia terdiri dari sepuluh bab yang berisikan nasihat tentang: a) perlunya sikap hormat kepada uskup dan kecaman terhadap orang-orang yang tidak tunduk kepada uskup, b) dorongan untuk hidup sempurna seperti Kristus, c) perlunya kewaspadaan atas pengajaran judaisme.

Surat kepada Jemaat Tralles terdiri atas sepuluh bab yang menekankan pentingnya sikap tunduk kepada uskup, penatua, dan diakon dan dorongan agar waspada terhadap pengajaran sesat.

Surat kepada Jemaat Roma terdiri dari sepuluh bab yang menekankan kerinduan Ignatius untuk mati martir dan permohonan agar orang Kristen Roma tidak menghalanginya untuk mendapatkan kehormatan mati sebagai martir.

Surat kepada Jemaat Filadelfia terdiri dari tujuh bab yang mendorong jemaat agar menghindari skisma di dalam kepemimpinan uskup dan nasihat untuk menolak judaisme.

Surat kepada Jemaat Smirna terdiri dari sembilan bab menekankan tiga hal. Pertama, ketuhanan Yesus Kristus. Kedua, bahaya ajaran sesat. Ketiga, sikap taat kepada uskup.

Surat kepada Polikarpus terdiri dari delapan bab yang mendorong semangat iman Polikarpus dan nasihat-nasihat praktis yang bersifat kegerejaan.

Jadi, intisari dari ketujuh suratnya itu ialah:

(a) Ia meminta kepada jemaat agar merelakan dengan sukacita kesempatan mulia dari Allah untuk mati martir bagi kemuliaan Tuhan.

(b) Ia menyerang ajaran-ajaran bidat di dalam gereja. Untuk menghadapi bidat tersebut, Ignatius meminta kepada semua jemaat agar mendengarkan pemimpin gereja lokal yang resmi, yaitu episkopos, presbiteros, dan diakonos.

(c) Ia menekankan pentingnya sakramen, terutama Sakramen Perjamuan Kudus sebagai saluran paling penting untuk menerima anugrah keselamatan. Sakramen Perjamuan Kudus ialah ‘obat ketidakfanaan, obat penawar maut’.

2. Polikarpus dari Smirna[12]

Polikarpus pernah mengucapkan kata-kata iman yang menjadi berkat bagi gereja. Ia mengatakan, “Selama 86 tahun aku melayani Yesus dan tidak pernah sekalipun Dia mengecewakan aku, bagaimanakah mungkin aku dapat menyangkal Dia?” Pernyataan tegas ini bukan diucapkan di ruangan khotbah, melainkan di hadapan algojo dan penguasa Romawi.

Polikarpus adalah uskup Smirna yang lahir pada tahun 70 dan mati martir pada tahun 156. Ia adalah murid dari Rasul Yohanes yang memiliki sikap lemah lembut dan penuh kasih seperti gurunya. Intisari tulisannya ialah:

(a) Mendorong jemaat agar tidak membalas perbuatan masyarakat yang jahat kepada mereka dengan kejahatan, melainkan harus menghadapinya dengan penuh kasih dan pengampunan.

(b) Dengan kesaksian pribadi, Polikarpus menegaskan kebenaran inkarnasi Yesus dan kebenaran Perjanjian Lama yang diilhamkan oleh Allah. Pernyataan ini disampaikan kepada orang-orang Kristen yang dipengaruhi gnostisisme.

(c) Polikarus juga memperingatkan anggota jemaat agar berhati-hati terhadap ajaran sesat dan setiap orang harus menjaga hati agar tidak tergoda oleh penyesat-penyesat.

3. Klemens Dari Roma[13]

Menurut tradisi, Klemens adalah murid Petrus dan Paulus dan namanya disinggung oleh Paulus dalam Fil 4:3. Ia menjadi uskup di Roma pada tahun 92 dan merupakan uskup ketiga. Clemens mati syahid pada tahun 95 pada masa pemerintahan Kaisar Domitianus. Tentang tempat dan waktu kelahirannya adalah hal yang gelap bagi kita. Ia menulis dua surat kepada jemaat di Korintus dengan mengatasnamakan jemaat di Roma. Intisari tulisannya ialah:

(a) Clemens menasihati jemaat di Korintus agar hidup dalam ketertiban dengan meneladani kehidupan Paulus dan Petrus. Ia meminta agar tidak terjadi pemecatan presbiter di dalam gereja dan presbiter yang sudah dipecat agar diterima kembali. Melalui suratnya yang berwibawa itu, Clemens telah meletakkan dasar dalam benteng ajaran katolik yang muncul kemudian, yaitu keutamaan keuskupan Roma.

(b) Di tengah-tengah maraknya moralisme pada abad kedua, Clemens hadir meneruskan teologi anugrah dari dari Rasul Paulus.[14]

4. Papias dari Hierapolis[15]

Papias adalah uskup kota Hierapolis di Provinsi Frigia yang lahir pada tahun 70 dan mati martir sekitar tahun 155. Menurut Ireneus, Papias adalah seorang murid Rasul Yohanes dan sahabat Polikarpus. Papias adalah seorang saleh, terpelajar dalam kitab suci, dan teguh mempertahankan tradisi rasul. Ia mengumpulkan ucapan-ucapan Tuhan dan berusaha untuk tidak memberikan tafsiran.[16] Dalam karangannya Exposition of Dominical Oracles, ia:

(a) Mengajarkan eskatologi premilenial

(b) Mengatakan bahwa Injil Markus disusun berdasarkan perkataan Petrus dan Injil Matius asli dikarang dalam bahasa Aram.

5. Gembala Hermas[17]

Hermas adalah seorang gembala yang mungkin berlatar belakang Yahudi. Ia menulis Sang Gembala yang di dalam karangannya berisikan:

(a) Tentang lima visi dan sepuluh perumpamaan.

(b) Pentingnya kekudusan dan pertobatan

(c) Orang yang mau menjadi pengikut Yesus Kristus harus miskin.

(d) Pencerminan kepercayaan orang-orang Kristen Yahudi.

6. Surat Barnabas[18]

Surat Barnabas (bukanlah Injil Barnabas) adalah nama samaran yang ditulis di Kota Alexandria pada tahun 135. Intisari karangan, ialah:

(a) Tafsiran dan ajaran praktis

(b) Tafsiran Perjanjian Lama dengan menggunakan alegoris

(c) Mendukung ajaran preeksistensi Kristus.

7. Didakhe[19]

Didakhe atau ajaran kedua belas rasul dikarang oleh seorang penulis yang tidak diketahui namanya pada akhir abad pertama atau awal abad kedua. Kitab ini terdiri atas 16 bab yang terbagi sebagai berikut.

(a) Ada dua jalan, yaitu jalan menuju maut dan jalan menuju hidup yang kekal. Jalan menuju maut ditempuh oleh orang yang hidup dalam kejahatan, sedangkan jalan menuju hidup kekal ditempuh oleh orang yang mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.

(b) Bagian kedua berhubungan dengan liturgi, baptisan, dan perjamuan suci. Mengenai baptisan, penulis menganjurkan baptisan selam, tetapi bila tidak memungkinkan, maka baptisan percik juga diterima sebagai kebenaran. Bagian ini juga menjelaskan tentang cara untuk mengetahui orang Kristen yang munafik. Tandanya ialah bahwa orang Kristen munafik berpuasa dua kali seminggu, seperti puasa orang Yahudi, dan berdoa Bapa Kami tidak tiga kali sehari seperti orang yang benar tetapi hati dan kelakuannya jahat.

(c) Bagian ketiga menjelaskan tentang cara untuk mengetahui nabi-nabi palsu . Nabi-nabi palsu ialah mereka yang selalu meminta uang, makanan, dan kesenangan duniawi. Perbuatan nabi palsu ini tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan.

(d) Kitab didakhe ialah kitab legalis yang menekankan aturan-aturan sebagai tanda kebenaran.

Nasihat Bapa Rasuli untuk Gereja Masa Kini

Dalam beberapa hal, konteks kekristenan bapa rasuli memiliki kemiripan dengan konteks kekristenan di Indonesia. Kemiripan pertama ialah bahwa kekristenan di Indonesia menghadapi tantangan baik dari masyarakat luar maupun dari pengajaran yang sangat pluralis. Kedua, kekristenan di Indonesia, terutama Protestanisme cenderung terpecah-pecah tanpa arah. Ketiga, kekristenan di Indonesia berada di bawah pengaruh kebudayaan paternalistik. Oleh karena itu, barangkali, nasihat bapa-bapa rasuli dapat memberi manfaat yang lebih berarti bagi kekristenan di Indonesia masa kini.

1. Nasihat untuk Mencintai Yesus Kristus

Ignatius dari Antiokia dan Polikarpus dari Smirna memberikan contoh arti mencintai Yesus Kristus dengan kesediaan mengikuti-Nya sampai di atas kayu salib. Banyak orang mengagumi Tuhan Yesus Kristus, tetapi hanya sedikit yang bersedia mengikuti jejak yang ditinggalkan-Nya.

Mencintai Yesus dengan segenap hati bagi bangsa dengan sistem berpikir subjektif-relasional pastilah lebih bermakna daripada sekadar mengenal dan memahami secara konseptual. Dengan mencintai kesediaan untuk berkorban akan lebih mungkin daripada sekadar mengenal atau memahami.

Barangkali sudah waktunya bagi gereja di Indonesia untuk mengevaluasi pola pembinaan yang dilakukan kepada anggota jemaat. Apakah warisan dari Reformator dalam bentuk pelajaran katekisasi relevan untuk kekristenan di Indonesia atau barangkali perlu mempertimbangkan Didakhe untuk ditambahkan ke dalam pembinaan warga jemaat.

2. Nasihat untuk Menghormati Pemimpin Gereja Lokal

Konteks kekristenan abad kedua ialah adanya banyak pengajaran dengan guru-guru yang sering tidak dapat dipertanggungjawabkan. Alkitab belum tertentu seperti sekarang ini. Di tengah-tengah keadaan yang tidak menentu itulah, bapa-bapa rasuli dengan semangat menjaga keutuhan dan wibawa gereja mengajak semua anggota jemaat untuk menghormati pemimpin gereja lokal, baik uskup, penatua, maupun diakon.

Saya berpendapat bahwa kekristenan di Indonesia memiliki kecenderungan mengabaikan nilai-nilai sakralitas gereja, pemimpin gereja, dan komunitas orang percaya. Gereja tidak berbeda dengan lembaga-lembaga dunia lainnya, pemimpin gereja pun tidak ada bedanya dengan pemimpin lembaga dunia lainnya. Tentu saja ini tidak mudah bagi jemaat yang sederhana yang berada di dalam kebudayaan paternalistik yang merindukan adanya anutan iman dan keberbedaan atribut-atribut iman.

Jadi, barangkali sudah waktunya juga untuk mengevaluasi pola kepemimpinan yang diterapkan di dalam kekristenan di Indonesia dengan mengacu kepada kekristenan pertama daripada budaya Barat yang menekankan demokrasi.

3. Nasihat untuk Menghargai Kemartiran

Bapa-bapa rasuli adalah para pejuang iman, para patriot gereja, dan para penderita iman Kristen yang tangguh. Kerinduan Ignatius untuk mati martir dan ketabahan Polikarpus menghadapi keganasan binatang buas memberikan keberanian kepada orang-orang Kristen pada masa itu untuk ikut menderita demi iman.

Memang tidak menjadi norma, tetapi terjadi di banyak tempat bahwa perkembangan kekristenan sering berhubungan dengan darah martir. Pertumbuhan gereja yang eksplosif di Korea Selatan sedikit banyak dipengaruhi oleh banyaknya martir Kristen pada masa penjajahan Jepang.

Kekristenan di Indonesia tampaknya akan memasuki era kemartiran atau sebaliknya era kemurtadan. Perkembangan akhir-akhir ini tidak membuat kekristenan semakin mudah, bahkan tampak kecenderungan iman orang percaya ditantang untuk maju dengan risiko aniaya atau diam pasrah menerima nasib apa adanya.

Untuk menghadapi masa yang tidak mudah ini, para pemimpin gereja harus mempersiapkan setiap anggotanya untuk mengerti dan menghayati nilai-nilai rohani yang terkandung di dalam kemartiran.

4. Nasihat untuk Mewaspadai Ajaran Sesat

Tantangan ajaran sesat yang paling menonjol pada masa bapa rasuli ialah sinkretisme yang disebut dengan gnostisisme. Ajaran ini menekankan adanya rahasia pengetahuan untuk mencapai kekekalan. Logos itu adalah cahaya ilahi yang diutus Allah untuk menolong umat manusia yang disekap dalam kegelapan materi atau daging. Selain itu, terdapat ajaran doketisme yang tidak mengakui kematian Yesus di atas kayu salib.

Untuk menghadapi serangan ajaran sesat tersebut, bapa-bapa rasuli tidak membalasnya dengan polemika ataupun apologetika, melainkan dengan kesalehan hidup pribadi dan ajakan kepada semua anggota jemaat untuk tetap setia kepada ajaran para rasul.

Tantangan kekristenan masa kini ialah modernisme yang di dalamnya terkandung hedonisme, materialisme, konsumerisme, dan pluralisme. Sama seperti gnostisisme yang berwajah banyak, maka paham-paham modernisme pun berwajak banyak, sehingga sulit untuk dibedakan. Misalnya, tidak mudah untuk membedakan semangat teologi kemakmuran dengan hedonisme.

Bila bapa-bapa rasuli menghadapi ajaran sesat tidak dengan apologetika ataupun polemika, melainkan dengan keteladanan hidup, barangkali hal yang sama pun tepat pula untuk Indonesia. Di dalam budaya paternalistik, anggota jemaat tidak akan mendengar apa yang dikatakan oleh pemimpinnya, melainkan akan mencontoh apa yang dilakukan oleh pemimpinnya. Mengulang kembali pernyataan Philip Jacob Spener yang menegaskan bahwa pendekatan argumentatif terhadap berbagai ajaran tidak membuahkan hasil yang memuaskan, maka pembelaan yang berlebihan tentang iman Kristen dan serangan yang berlebihan terhadap berbagai ajaran, cenderung menjadi bumerang bagi kekristenan dan promosi bagi ajaran-ajaran tersebut.

5. Nasihat untuk meningkatkan Moralitas Iman

Surat Clemens kepada Jemaat Korintus menggambarkan kekristenan sebagai komunitas yang hidup dalam kekekalan, semarak dalam kebenaran, teguh dalam keberanian, setia dalam iman, terus-menerus dalam kekudusan. Orang Kristen menonjol dalam tanggung jawab moral, sikap saling kasih, dan toleransi yang besar.[20]

Salah satu penyebab kekristenan di Persia mengalami kemerosotan ialah karena nilai moralitas kekristenan lebih rendah daripada masyarakat non-Kristen.

Kekristenan masa bapa rasuli ‘ditandai’ karena gaya hidup mereka. Kekristenan di Indonesia tidak ditandai karena nilai moralitas mereka, bahkan penanda yang diberikan masih bersifat negatif, yaitu agama kolonial. Kita belum pernah mendengar ada gereja yang berdemontrasi ke satu kantor departemen untuk menolak korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dilakukan di departemen tersebut. Kita tidak pernah juga mendengar ada gereja yang berdemontrasi untuk penutupan rumah judi atau rumah bordil. Mungkin sudah waktunya kekristenan sadar bahwa kualitas moral haruslah menjadi bagian iman yang terlihat nyata dan terimplementasi di dalam kehidupan kegerejaan.

Moralitas yang barangkali akan menjadi kekaguman masyarakat Indonesia ialah orang yang rela hidup sederhana walau bisa menjadi kaya, pekerja yang jujur walau bisa korup, warga masyarakat yang taat pada peraturan walau semua orang tidak lagi memedulikannya, tetangga yang suka memberi dan membagi walau tidak kaya, orang yang suka mengampuni kalau hatinya disakiti, tidak suka menuntut walau dijahili, dan seterusnya.

Penutup

Bapa-bapa rasuli adalah orang-orang Kristen generasi pertama setelah rasul yang memiliki kecintaan yang besar kepada Tuhan Yesus dan yang menjadi terang pada generasinya. Tulisa-tulisan mereka memang sederhana, tetapi memberi semangat dan inspirasi bagi anggota jemaat untuk hidup beriman.

Kalau kita mengakui bahwa kekristenan masa kini adalah bagian dari kekristenan masa lalu, maka sangatlah tidak salah untuk mempertimbangkan kembali nilai-nilai yang pernah ada, seperti tulisan-tulisan bapa rasuli. Bila kita mau mempertimbangkannya dan mencoba mencari relevansinya, maka sebagian besar dari tujuan tulisan ini telah tercapai.

 



1 End, Harta dalam Bejana, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), 22-39. Mengenai interaksi antara iman kristiani dan budaya lokal, David J. Bosch, dalam Kata Pengantar bukunya yang berjudul Transformasi Misi Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), xiii-xvi, juga menyatakan hal yang senada, yaitu bahwa pengungkapan iman kristiani selain mengubah juga diubah oleh konteks lingkungannya.2 Bahana, Yayasan ANDI, Jogja, Vol. 161, September 2004, 5–8[5] Philip Jacob Spener, Pia Desideria, Philadelphia: Fortress Press, 1988), 87-114.[6] Samuel Hugh Moffett, A History of Christianity in Asia Vol. I, Beginning to 1500, (New York: HarperCollins Publisher, 1992), 435-436.3 Sinclair B. Ferguson, New Dictionary of Theology, (England: Intervarsity Press, 1988), 40.4 Ibid.[7] Randal Watters, The Apostolic Fathers, The Athenaeum of Christian Antiquity, The St. Pachomius Orthodox Library, 1994.

[8] Philip Schaff, History of the Christian Church, Vol. II, (Grand Rapids: W.M.B. Eerdmans Publishing Company, 1956), 633-635.

[9] Robert C. Walton, Chronological and Background Charts of Church History, (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1986), 3.

[10] Earle E. Cairns, Historiography, (Chicago: The Moody Bible Institute, 1961).

[11] Ketujuh dokumen tulisan Ignatius dari Antiokia diambil dari Ante-Nicene Fathers, The Writings of the Fathers Down to A.D. 325 Vol. I, (dalam versi pendek) ( Illinois: Christian Classics Electronic Library, 1998).

[12] Surat Polikarpus kepada Jemaat Filipi diambil dari Ante-Nicene Fathers, The Writings of the Fathers Down to A.D. 325 Vol. I, ( Illinois: Christian Classics Electronic Library, 1998).

[13] Surat Clemens kepada Jemaat Korintus diambil dari Ante-Nicene Fathers, The Writings of the Fathers Down to A.D. 325 Vol. I, ( Illinois: Christian Classics Electronic Library, 1998).

[14] Alexander Roberts (ed.), The Ante-Nicene Fathers, Translation of the Writing of the Fathers dpwn to A.D. 325 Vol. I, (Grand Rapids: W.M.B. Eerdmans Publishing Company, 1979), 1.

[15] Eksposisi Ucapan-ucapan Tuhan diambil dari fragmen the Exposition of the Oracles of the Lord, dari Ante-Nicene Fathers, The Writings of the Fathers Down to A.D. 325 Vol. I, ( Illinois: Christian Classics Electronic Library, 1998).

[16] Philip Schaff, History of the Christian Church Vol , (Grand Rapids: Wm. B.Eerdmans, electronic form 1996), 1-4.

[17] Gembala Hermas diambil dari Ante-Nicene Fathers, The Writings of the Fathers Down to A.D. 325 Vol. II, ( Illinois: Christian Classics Electronic Library, 1998).

[18] Surat Barnabas diambil dari Ante-Nicene Fathers, The Writings of the Fathers Down to A.D. 325 Vol. I, ( Illinois: Christian Classics Electronic Library, 1998).

[19] Didakhe diambil dari The Didache, or Teaching of the Twelve Apostles, (diterjemahkan oleh Charles H. Hoole), Friar Martin Fontenot Gonzales (ed.) The Athenaeum of Christian Antiquity, The St. Pachomius Orthodox Library, 1994.

[20] W.H.C. Frend, The Rise of Christianity, (Philadelphia: Fortress Press, 1984), 136.

Leave a Comment

Name: (Required)

E-mail: (Required)

Website:

Comment: