PENERAPAN KONSEP LOGOTERAPI DALAM KONSELING KRISTEN
PENERAPAN KONSEP LOGOTERAPI DALAM KONSELING KRISTEN
Veranita Pandia, dr. SpKJ
Pendahuluan
Menurut Larry Crabb, dalam bukunya “Efectif Bibilical Counseling”, setiap orang Kristen adalah konselor, apalagi seorang pendeta, penatua dan para pemimpin gereja yang mempunyai kesempatan khusus untuk melayani di tengah jemaat gereja. Seorang pendeta tidak hanya bertugas untuk berkotbah atau menginjili orang untuk menerima
Kristus dalam hidupnya. Seperti pengamatan Howard Clinibell dalam bukunya Basic Types of Pastoral & Counseling, ternyata hanya 10 % dari klien dalam konseling pastoral yang mempunyai masalah kerohanian sebagai masalah utama. Dengan kata lain, seorang pendeta lebih sering melayani jemaat yang memiliki masalah kehidupan dan membutuhkan pelayanan konseling. Kaum rohaniwan baik seorang konselor Kristen maupun para pendeta dituntut siap sedia setiap waktu untuk menolong orang lain mengatasi masalah-masalah mereka. Proses pelayanan seperti ini kita sebut sebagai konseling Kristen dan konseling Pastoral. Bagi kaum profesional yang melakukan terapi lebih terstruktur dan mendalam disebut dengan istilah psikoterapi.
Konseling dan psikoterapi bertujuan untuk menolong klien atau pasien menemukan sendiri jalan ke luar dari masalah yang mereka hadapi dengan modal-modal yang mereka miliki untuk problem-solving.[1]
Memang, Crabb mengatakan bahwa sebagian besar kaum profesional Kristen atau para ahli terapi integratif cenderung mengkombinasikan pandangan-pandangan dan sumber-sumber Alkitab dengan hikmat psikologi yang mungkin saja bertentangan dengan prinsip kebenaran Alkitab. Namun di sisi lain, Crabb menekankan bahwa psikologi perlu karena dapat menolong orang Kristen yang berusaha memahami dan menyelesaikan masalah-masalah pribadinya. Tentulah dengan mengingat bahwa prioritas utama terhadap usaha-usaha integrasi yang bertanggung jawab adalah mengembangkan sebuah strategi untuk mengevaluasi psikologi sekular dalam terang ajaran Alkitab.[2]
Penulis berpendapat bahwa seorang konselor yang mau belajar dan berlatih akan lebih peka terhadap diri sendiri dan kebutuhan orang lain untuk mendapatkan pelayanan konseling khusus. Dengan bertambahnya tantangan dan kesulitan hidup pada zaman ini, banyak orang yang sedang dalam kebingungan, dihantui perasaan cemas dan takut yang mencekam, kesedihan yang mendalam, bahkan ada yang sampai jatuh dalam keputusasaan. Mereka ini memerlukan konselor-konselor yang tidak picik dan terbuka terhadap perkembangan psikologi yang dapat digunakan untuk mengembangkan konseling yang efektif. Selain itu, tentulah pelayanan konseling akan berhasil apabila sang konselor tidak hanya mengandalkan teori-teori para pakar psikologi, akan tetapi kebenaran Alkitab tetap menjadi prioritas utama.
Para pakar psikologi menawarkan berbagai pendekatan terapi atau konseling dari metode psikoanalitik, client-centered, pendekatan ‘here and now’ dari Gestalt, analisis transaksional, terapi rasional-emotif, terapi tingkah laku (behavior therapy), terapi realitas dan eksistensial-humanistik. Masing-masing pendekatan ini mempunyai kelebihan dan kelemahan, namun demikian dapat diterapkan sebagai strategi untuk menolong klien keluar dari masalah mereka dalam proses konseling. Metode yang digunakan dalam proses konseling dapat bervariasi sesuai dengan kebutuhan klien dan tidak terlepas pula dari kompetensi konselor itu sendiri.[3]
Yesus sebagai konselor yang Agung menolong orang-orang yang bermasalah juga dengan metode yang bervariasi. Selain itu, Yesus menolong orang dengan kemampuan mengatakan sesuatu yang ‘tidak mungkin salah’ karena Dia mengenal dengan jelas manusia ciptaan-Nya. Tentulah Yesus berbeda dengan konselor Kristen yang mempunyai keterbatasan sebagai manusia. Namun demikian, seorang konselor Kristen mempunyai Roh Kudus yang siap membimbing dan menolong dalam menjalankan tugas pelayanan konseling.[4]
Pada kesempatan ini, penulis ingin memperkenalkan salah satu metode konseling yang termasuk dalam aliran eksistensial. Walaupun ada segelintir teolog maupun konselor Kristen yang tidak setuju dengan pendekatan eksistensial karena dianggap terlalu mempertimbangkan hubungan dengan manusia saja, penulis ingin mengajak pembaca untuk melihat satu pendekatan konseling ini dari aspek lain. Berbagai pengetahuan tentang teori psikologi dan metode konseling dapat dimanfaatkan oleh konselor sebagai ‘pintu masuk’ bagi seseorang yang bermasalah untuk dapat melihat dirinya. Kesadaran seseorang akan diri dan keberadaannya memudahkan konselor untuk memberikan pilihan-pilihan yang adaptif bagi klien untuk menyelesaikan masalahnya berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.
Viktor Frankl, seorang penganut paham eksistensial mengembangkan satu metode terapi atau konseling yang dikenal dengan ‘logoterapi’. Logoterapi sebenarnya secara tidak sadar sudah sering diterapkan oleh kaum spiritual, termasuk konselor-konselor Kristen. Sekarang ini logoterapi banyak dikembangkan dan diterapkan dalam proses konseling yang bertujuan untuk menolong pasien atau klien keluar dari masalah mereka dan menolong mereka untuk melihat bahwa hidup mereka bermakna.[5]
Fankl dan Logoterapi
Prof. Viktor E. Frankl adalah seorang profesor dari Fakultas Kedokteran-Universitas Vienna dan juga cukup lama menjadi mahasiswa yang mempelajari filosofi eksistensial. Pada awal 1938 menggunakan istilah ‘Existenz-Analyse’ dalam tulisannya. Beliau memperoleh gelar doktor filosofi, dan juga gelar dokter sebagai neurologis dan psikiater. Kemudian Frankl bekerja sebagai Kepala Poliklinik Neurologik Vienna dan mendapat julukan kehormatan “The Third Viennese School of Psychotherapy”.[6]
Frankl memperkenalkan logoterapi yang mengakui adanya dimensi spiritual dan memanfaatkannya untuk mengembangkan hidup bermakna (therapy through meaning). Dari asal katanya, logoterapi berasal dari kata ‘logos’ yang berarti ‘meaning’ (makna) dan ‘spirituality’ (kerohanian). Logoterapi digolongkan pada Existential Psychiatry dan Humanistic Psychology[7]
Viktor Frankl berpendapat bahwa kebutuhan manusia yang lebih mendasar adalah kebutuhan untuk hidup bermakna atau berarti. Keinginan untuk mempunyai maknai merupakan salah satu kekuatan motivasi yang ada dalam diri manusia bahkan lebih mendasar daripada ‘prinsip kesenangan’ (pleasure principle) dari Freud atau ‘keinginan untuk berkuasa’ dari Adler. Menurut Frankl, seseorang akan menjadi sakit apabila dia tidak lagi mempertanyakan keberadaannya. Hal ini terjadi karena dia tidak dapat lagi berfungsi sebagaimana mestinya atau istilah Frankl manusia itu sedang berada di dalam ‘kekosongan eksistensial’[8]
Ajaran Logoterapi
Logoterapi berpandangan bahwa ‘makna hidup’ (the meaning of life) dan ‘hasrat untuk hidup bermakna’ (the will to meaning) merupakan motif azasi manusia yang dapat dilihat dalam dimensi spiritual atau ‘noetic’. Jadi, Frankl berpendapat bahwa ada dimensi lain selain dimensi somatik dan psikis, yaitu dimensi spiritual. Tampaknya Frankl tidak memisahkan antara fisik, psikis dan spiritual seorang manusia dan menganggapnya merupakan satu kesatuan yang utuh. Konflik dasar spiritual yang muncul dari dalam diri seseorang dapat terjadi sebagai akibat ketidakmampuannya untuk muncul secara spiritual mengatasi kondisi fisik dan psikisnya. Konflik ini tidak berakar pada kerumitan psikologis, akan tetapi terpusat pada hal spiritual dan etis. Apabila terdapat satu konflik spiritual dapat menyebabkan gangguan psikologis (neurosis) yang disebut Frankl sebagai ‘noogenic neurosis’. Terapi ini bertujuan untuk memenuhi doroangan spiritual yang dibawa oleh manusia sejak lahir dengan mengeksplorasi makna keberadaan manusia.[9]
Konsep logoterapi, yaitu :
- Kehidupan memiliki makna dalam keadaan apapun, termasuk dalam penderitaan.
- Manusia memiliki suatu kehendak untuk hidup bermakna yang merupakan motivasi utama untuk hidup.
- Kita memiliki kebebasan untuk menemukan makna hidup melalui apa yang dikerjakan, apa yang dihayati, atau sekurang-kurangnya dalam sikap yang kita ambil atas situasi dan penderitaan yang tak dapat diubah lagi.
Ajaran dalam Logoterapi mempunyai 3 landasan filsafat, yaitu :
- The freedom of will: kebebasan tetapi terbatas, bukan kebebasan dari sesuatu tetapi kebebasan mengambil sikap terhadap sesuatu. Kebebasan yang dimaksud di sini adalah kebebasan yang bertanggungjawab.
- The will to meaning : merupakan motivasi dasar manusia. Yang dimaksudkan dengan keinginan untuk bermakna adalah : tertuju kepada hal-hal yang berada di luar diri manusia tersebut, bukan berpusat pada diri sendiri (self-centered)
- The meaning of life : dapat ditemukan oleh manusia dalam kehidupannya, termasuk pada saat mengalami penderitaan (rasa bersalah, sakit, kematian). Makna hidup setiap orang sifatnya unik, personal, spesifik, dan temporer. Makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapapun, jadi harus ditemukan oleh diri sendiri[10].
Sebelum kita sampai pada teknik atau metode logoterapi dalam konseling, sebaiknya kita mengerti terlebih dahulu konsep logoterapi yang dipakai dalam metode konseling. Sebagai satu metode terapi, logoterapi eksistensial menolong klien untuk mencari dan menemukan ‘makna eksistensi diri yang sepenuhnya’. Hal ini berarti meolong klien bukan hanya untuk melihat kemungkinan-kemungkinan dari nilai hidup yang memberi makna tetapi juga menemukan relevansi dari nilai-nilai tersebut dalam kehidupan peribadinya. Sesuai dengan ajaran logoterapi, Frankl berpendapat bahwa manusia dapat memperoleh makna hidup yang bersumber dari :
- Nilai-nilai kreatif (creatif values), yaitu : berkarya, bekerja, mencipta, dan melaksanakan satu kegiatan dengan baik karena mencintai kegiatan itu.
- Nilai-nilai penghayatan (experiental values), yaitu : meyakini dan menghayati kebenaran, keyakinan, keindahan, cinta kasih, dan keimanan.
- Nilai-nilai bersikap (attitudinal values), yaitu : mengambil sikap tepat atas pengalaman tragis yang tak terhindarkan.
Apabila seseorang tidak lagi dapat menemukan makna hidup dari kreativitas atau kegiatan yang dilakukan (creatif values) dan pengalaman hidup tidak lagi memberi makna (experiental values), Frankl berpendapat bahwa seseorang masih dapat menemukan makna hidup dengan cara ‘mengatasi penderitaannya’ (attitudinal values). ‘Attitudinal values’ inilah yang merupakan ajaran mendasar dari Frankl dalam logoterapi, yaitu melihat makna positif dari satu penderitaan. Logoterapis mendorong klien untuk melihat sisi baik dari satu penderitaan dengan cara menerima penderitaan tersebut. Dengan demikian, akan memungkinkan klien untuk merealisasikan makna hidup yang tertinggi dan terbaik. Jadi, inti dari ajaran logoterapi adalah semua orang mendapat kesempatan untuk merealisasikan ‘attitudinal values’, yaitu menemukan makna hidup dengan menghadapi penderitaan sampai sampai nafas terakhir.[11]
Logoterapi sebagai Salah Satu Metode Konseling
Dalam logoterapi pasien dibantu untuk menemukan nilai-nilai baru dan mengembangkan filosofi konstruktif dalam kehidupannya. Oleh karena itu, seorang logoterapis tidaklah mengobati gejala-gejala yang tampak pada pasien atau klien secara langsung, akan tetapi mengadakan perubahan sikap neurotik pasien terlebih dahulu. Pasien bertanggungjawab pada dirinya sendiri dan logoterapis memberikan dorongan untuk memilih, mencari dan menemukan sendiri makna konkrit dari eksistensi pribadinya. Seorang logoterapis membantu klien untuk menyusun 3 macam nilai yang akan memberi arti pada eksistensi, yaitu : creative values, experiental values, dan attitudinal values.[12]
Dalam proses terapi, klien diperlihatkan bagaimana membuat hidup menjadi penuh arti dengan ‘the experience of love’. Pengalaman ini akan membuatnya mampu menikmati ketulusan, keindahan dan kebaikan dan mampu mengerti akan manusia dengan keunikan-keunikan pribadinya. Dengan demikian, diharapkan klien dapat melihat bahwa penderitaan mungkin sangat berguna untuk membantunya dalam mengubah sikap hidup. Sebagai contoh, situasi yang tidak dapat diperbaiki yang disebut oleh Frankl sebagai ‘takdir’ mungkin harus diterima. “Dimana kita tidak lagi dapat mengubah takdir dengan perbuatan, apapun keadaannya, sikap yang tepat untuk menghadapi takdir adalah … kita harus dapat menerimanya”[13]
Jadi, tujuan dari logoterapi adalah membangkitkan “kemauan untuk bermakna” dalam individu tersebut, yang bersifat khusus dan pribadi bagi masing-masing orang. Seseorang dapat bertahan dalam kondisi-kondisi yang paling tidak menguntungkan hanya bila tujuan ini terpenuhi. Namun sebelumnya, seorang konselor sebaiknya mampu mengeksplorasi dinamika proses intrapsikis dan menyelidiki hubungan interpersonal klien melalui psikoterapi tradisional dengan teknik psikoanalitik. Oleh karena itu, tampaknya Frankl, tidak sama sekali meninggalkan teori Freud dalam psikoanalitiknya, tetapi keberhasilan logoterapi sangat dipengaruhi oleh keberhasilan terapis dalam mengeksplorasi konflik intrapsikis dari klien.[14]
Dengan logoterapi, klien yang menghadapi kesukaran menakutkan atau berada dalam kondisi yang tidak memungkinkannya beraktivitas dan berkreativitas dibantu untuk menemukan makna hidupnya dengan cara bagaimana ia menghadapi kondisi tersebut dan bagaimana ia mengatasi penderitaannya. Dengan cara ini, klien dibantu untuk menggunakan kejengkelan dan penderitaannya sehari-hari sebagai alat untuk menemukan tujuan hidupnya. Peradaban kita saat ini meyakinkan banyak orang untuk melihat penderitaan sebagai satu ‘takdir’ yang tidak dapat dicegah dan dielakkan. Akan tetapi logoterapi mengajarkan kepada klien untuk melihat nilai positif dari penderitaan dan memberikan kesempatan untuk merasa bangga terhadap penderitaannya. Salah satu teknik yang digunakan dalam logoterapi adalah teknik persuasif, yaitu membantu klien untuk mengambil sikap yang lebih konstruktif dalam menghadapi kesulitannya. Frankl, menggambarkan hal ini dalam satu kasus tentang seorang perawat yang menderita tumor yang tidak dapat dioperasi dan mengalami keputusasaan karena ketidakmampuannya untuk bekerja dalam profesinya yang sangat terhormat.
”Saya mencuba menolongnya memahami bahwa bekerja 8-10 jam atau berapa jampun sehari bukanlah hal yang hebat. Banyak orang dapat melakukannya. Tetapi sangat ingin bekerja dan tidak mampu melakukannya seperti yang dia alami, tanpa menjadi berputus asa merupakan suatu prestasi hidup yang hanya sedikit orang mampu melakukannya”.
Kemudian terjadi hal yang menarik, yaitu : perawat tersebut menyampaikan perasaan jujurnya terhadap para pasien pada saat dia mampu bekerja. Dulu dia merendahkan para pasien tersebut karena melihat bahwa kehidupan orang yang sakit tidak mempunyai arti atau tidak bermakna. Dengan kata lain, dia menganggap orang sakit yang tidak dapat disembuhkan adalah orang yang tidak layak untuk hidup dan tidak mengakui keberadaan mereka. Pergeseran sudut pandang yang dihasilkan dengan logoterapi dapat menolong dan menghilangkan rasa putus asa klien tersebut. Dalam buku The Technique of Psychotherapy, Frankl mengutip kasus lain, yaitu seorang koleganya :
‘Seorang dokter umum tua yang datang pada saya karena ia masih belum dapat mengatasi rasa kehilangannya atas kematian isterinya dua tahun sebelumnya. Pernikahannya sangat bahagia, sehingga sejak ditinggalkan istrinya ia sangat tertekan. Saya bertanya kepadanya dengan sungguh-sungguh: ”Katakan kepada saya, apa yang akan terjadi bila andalah yang meninggal menggantikan istri anda, dan ia masih hidup?” Akan sangat mengerikan” katanya.”Tidak dapat dibayangkan, betapa istri saya akan menderita”.”Baiklah”, saya menjawab. “Istri anda telah terhindar dari hal itu, dan andalah yang telah menghindarkannya dari penderitan itu, meskipun tentu saja anda harus membayarnya dengan terus bertahan hidup dan berduka baginya”. Saat itulah dukacitanya telah memberikan ‘makna’, yaitu makna pengorbanan. Depresinya berhasil diatasi’.
Apa yang Frankl sampaikan ialah bahwa ia telah berhasil memberikan makna baru terhadap pengalaman penderitaan kliennya. Walaupun kita belum tahu pasti dinamika yang terlibat dalam perubahan sikap pasien, namun sangat jelas terlihat pengaruh konselor yang memiliki otoritas dalam membantu pasien menghadapi kematian, penderitaan, dan bencana-bencana lain dalam kehidupan.[15]
Logoterapi merupakan suatu pendekatan eksistensial khsusus yang meliputi 2 prosedur re-edukatif yang berbeda, yaitu : paradoxical intention dan de-reflection.[16]
Paradoxical-intention :
Paradoxical intention pada dasarnya memanfaatkan kemampuan mengambil jarak (self-detachment) dan kemampuan mengambil sikap terhadap kondisi diri sendiri dan lingkungan. Paradoxical intention terutama cocok untuk pengobatan jangka pendek pasien fobia (ketakutan irrasional). Dengan teknik ini, konselor mengupayakan agar klien yang mengalami fobia mengubah sikap dari ‘takut’ menjadi ‘akrab’ dengan objek fobianya. Selain itu, teknik paradoxical intention sangat bermanfaat untuk menolong klien dengan obsesif kompulsif (tindakan yang terus-menerus dilakukan walaupun sadar hal itu tidak rasional). Antisipasi yang menakutkan terhadap suatu kejadian sering menyebabkan reaksi-reaksi yang berkembang dari peristiwa tersebut, misalnya pasien dengan obsesi yang kuat cenderung untuk menghindari obsesif-kompulsifnya. Dengan teknik paradoxical intention, mereka diajak untuk ‘berhenti melawan’, tetapi bahkan mencoba untuk ‘bercanda’ tentang gejala yang ada pada mereka, ternyata hasilnya adalah gejala tersebut akan berkurang dan menghilang. Klien diminta untuk berpikir atau membayangkan hal-hal yang tidak menyenangkan, menakutkan, atau memalukan baginya. Dengan cara ini klein mengembangkan kemampuan untuk melawan ketakutannya, seperti yang terdapat juga dalam terapi perilaku (behaviour therapy).[17]
De-reflection :
Teknik logoterapi lain adalah “de-reflection”, yaitu memanfaatkan kemampuan transendensi diri (self-transcendence) yang dimiliki setiap manusia dewasa. Setiap manusia dewasa memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dan tidak lagi memperhatikan kondisi yang tidak nyaman, tetapi mampu mengalihkan dan mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal yang positif dan bermanfaat. Di sini klien pertama-tama dibantu untuk menyadari kemampuan atau potensinya yang tidak digunakan atau terlupakan. Ini merupakan suatu jenis daya penarik terhadap nilai-nilai pasien yang terpendam. Sekali kemampuan tersebut dapat diungkapkan dalam proses konseling maka akan muncul suatu perasaan unik, berguna dan berharga dari dalam diri klien. De-reflection tampaknya sangat bermanfaat dalam konseling bagi klien dengan pre-okupasi somatik, gangguan tidur, dan beberapa gangguan seksual, seperti impotensi dan frigiditas.[18]
Konsep ‘hidup bertanggungjawab’ (responsibility), merupakan batu penjuru dalam logoterapi, demiukian juga dalam terapi eksistensial lainnya. Isi pokoknya adalah bahwa masing-masing individu bertanggung jawab untuk membuat hidupnya menjadi seperti apa yang dia inginkan, apakah menjadikan hidupnya ‘menggembirakan’ atau menjadikan hidupnya ‘bagaikan di neraka’. Interpretasi terhadap apa yang dia berikan kepada pengalamannya merupakan faktor penentu. Setiap orang memiliki alat untuk mengubah keadaannya dengan meningkatkan nilai atau makna hidupnya.[19]
Penerapan Konsep Logoterapi dalam Konseling Kristen
Saat ini, banyak orang yang tidak mempunyai makna atau tujuan dalam hidupnya. Tidak ada nilai atau makna yang cukup bagi mereka untuk memberi pengharapan dan penggairah ketika mereka bangun pada pagi hari yang baru. Frankl, menggambarkan satu ‘kekosongan makna’ yang terdapat pada orang yang mengalami ‘depresi eksistensial’. Orang seperti ini mengalami frustrasi yang berat dalam hidupnya karena tidak dapat memenuhi ‘hasrat untuk hidup bermakna’ (will to meaning) yang merupakan kebutuhan spiritual. Tujuan konseling Kristen, khususnya konseling pastoral adalah untuk memuaskan kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan spiritual. Kebutuhan spiritual ini hanya dapat dipuaskan dalam suatu hubungan yang disebut Tillich sebagai ‘dimensi vertikal’, yaitu realitas rohani dengan Allah.[20]
Penulis berpendapat, bahwa konsep logoterapi dapat diterapkan dalam konseling Kristen. Sebenarnya setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar dalam hidupnya dan apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi akan menimbulkan konflik yang dapat mengganggu jiwanya. Maslow, mengemukakan bahwa manusia mempunyai kebutuhan dasar untuk dapat bertahan hidup, yaitu dari kebutuhan fisiksebagai kebutuhan primer sampai dengan kebutuhan aktualisasi diri. Freud, melihat manusia juga membutuhkan ‘rasa senang’ (pleasure), sedangkan Frankl melihat bahwa manusia membutuhkan ‘rasa bermakna’ yang manurut penulis merupakan kebutuhan tertinggi dan termulia karena memang kita diciptakan sebagai manusia yang yang mempunyai makna. Makna hidup bisa diperoleh ketika kita sudah mendapatkan semua kebutuhan dasar tersebut atau ketika kita belum mendapat apa-apa, bahkan pada saat kita menderita. Yesus memberikan teladan kepada kita bahwa ketika Ia sedang, menderita di kayu salib hidupnya masih memberikan makna bagi orang lain.
Seorang konselor Kristen yang memakai konsep logoterapi akan menolong kliennya untuk melihat ‘makna hidup’ dalam terang Firman Tuhan. Paul Tillich, mengatakan bahwa cara yang konstruktif untuk mengendalikan kecemasan eksistensial, hanayalah kehidupan religius yang otentik, yaitu menampakkan pengaktualisasian gambar Allah dalam diri individu. Kecemasan eksistensial terjadi disebabkan oleh ancaman ‘non-being’, seperti: 1) ancaman penderitaan dan kematian, 2) kekosongan dan kehilangan makna hidup, dan 3) penghakiman akibat kesalahan/dosa.[21]
Firman Tuhan memberikan jalan keluar dari kecemasan eksistensial akibat penderitaan karena keadaan yang tidak dapat diubah menurut manusia, yaitu dengan melihat makna dari penderitaan yang mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Penderitaan yang merupakan pencobaan biasa akan memberikan makna hidup bagi orang yang sedang mengalaminya apabila yakin dan percaya bahwa Allah menolongnya untuk cakap menanggung pecobaan tersebut (I Kor 10:13). Orang Kristen diajar untuk tidak hanya bersukacita dalam keberhasilan atau ketika semuanya tampak tenang, tetapi juga mampu bersukacita dalam segala keadaan (Filp 4:4), sehingga Paulus sanggup mengatakan : “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13). Seorang konselor Kristen sebaiknya membantu orang yang sedang menderita atau mengalami pencobaan dengan melihat makna dari keadaan yang dialaminya sebagai satu ujian. Apabila seseorang sudah tahan uji dan menang dengan pertolongan Tuhan sendiri (bukan dengan kekuatannya) akan memperoleh mahkota kehidupan (Yak. 1:12). Ajaran Kristus kepada pengikut-Nya adalah bukan hanya sekedar percaya kepada-Nya, melainkan juga untuk menderita bagi Dia (Flp. 1:29). Janji Tuhan juga bermanfaat untuk memberikan makna bagi orang yang sedang dilanda kecemasan eksistensial akibat ancaman kematian. Pengertian yang benar tentang kematian akan menolong klien untuk ke luar dari kecemasannya, bahkan ketika masih diberikan kesempatan untuk hidup, klien dapat memberikan makna bagi orang lain dan bagi Tuhannya. Paulus mengatakan: “ Karena bagiku hidup ad