“UNION MYSTICA”

“UNION MYSTICA”

DALAM KEKRISTENAN

(Mika Sulistiono)1

Pemahaman tentang kemanunggalan Allah dalam Kristus dengan umat-Nya (Union Mystica) bukanlah sekedar konsepsi yang bersifat praktis. Konsep ini bersifat esensial dan mendasar, sekaligus memiliki kaitan praktis dengan kehidupan Kristen yang lebih luas (Roma 6:1-14; Efesus 2:4-9). Hanya sayang, konsep tersebut kurang mendapat perhatian dan penuturan secara proposional dalam “rimba” doktrin Kristen. Sebenarnya kebenaran ini sangat cocok apabila dihadirkan dalam lingkup masyarakat timur, secara khusus bagi orang-orang Jawa yang banyak bergelut dengan segala macam keyakinan mistiknya,2 yang kena-mengena dengan usaha untuk mencapai union mystica. Adalah suatu kenyataan bahwa berbagai mistik, keyakinan dan kepercayaan di lingkungan orang-orang timur pada umumnya bermuara pada hasrat mencapai keadaan manunggaling kawula-Gusti. 3 Sebagaimana Suwardi Endraswara mengungkapkan:

Dalam praktik hidup kebatinan yang bernuansa mistik, memang terdapat perbedaan di antara satu sekte dengan yang lain, organisasi yang satu dengan yang lain, bahkan di antara individu. Namun semuanya selalu mengarah pada union mystica yaitu manunggaling kawula-Gusti. Masing-masing individu pun bebas mengembangkan ekspresi dan daya intuisinya untuk memperoleh pengalaman batin masing masing dalam berhubungan dengan Tuhan. Kalau pun ada ‘guru’ atau ‘narasumber’ spiritual dalam hidup mereka, hanyalah sekedar pemberi wawasan saja.4

Mengingat terabaikannya dan urgensinya topik tersebut dalam strategi pelayanan di konteks timur – selain melihat esensinya dari sudut edifikasi Kristen – maka pembahasan topik ini sangatlah perlu.

“Union Mystica” Orang Percaya dengan Allah

Alkitab menuturkan bahwa kenyataan hidup baru bagi orang-orang yang percaya dalam Yesus Kristus merupakan status dan hakikat baru tersendiri bagi orang Kristen (Roma 8:1-17). Ini merupakan konsep yang sangat menonjol dalam Perjanjian Baru. Paulus mengungkapkan keadaan tersebut dengan pernyataan: ‘Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang’ (2 Korintus 5:17). Hidup baru yang demikian bukanlah sama sekali menyangkut masuknya orang Kristen dalam kelompok baru atau mempunyai gelar baru. Dalam Yohanes 14:20 kenyataan tersebut secara mendasar lebih menunjukkan tentang misteri kemanunggalan Yesus (Union with Christ) dengan umat-Nya. Dalam hal ini orang-orang yang beriman kepada-Nya. Bagi W. E. Best, kemanunggalan orang percaya dengan Kristus yang demikian merupakan suatu rahasia yang besar dan terpahami.5 Beliau nampak memandang peristiwa itu sebagai realisasi rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad, tetapi yang sudah dinyatakan dalam orang-orang kudus-Nya.

Rencana Allah tentang
“Union Mystica”
Orang Percaya dengan Kristus

 

Cukup banyak teolog yang meletakkan konsep union with Christ (Union Mystica) sebagai bagian akhir dari pembahasan doktrin soteriologi. Kendatipun hal demikian tidak keliru, namun apabila memperhatikan fakta di Alkitab tentang rancangan kekal Allah bagi keselamatan manusia, maka keliru jika menempatkan peristiwa union with Christ sebagai yang terakhir dari ordo keselamatan6 orang-orang percaya. John Murray – sebagaimana yang dikutip oleh Anthony A. Hoekema – pernah menulis bahwa:

Kesatuan dengan Kristus merupakan inti kebenaran dari keseluruhan doktrin keselamatan. Ia bukan sekedar salah satu fase di dalam penerapan penebusan; kesatuan ini mendasari setiap aspek penebusan.7

Gagasan John Murray tersebut mengingatkan tentang perlunya memahami union mytica (union with Christ) dari sudut teologis. Ini cocok dengan pemahaman kaum Reformed, bahwa konsep kesatuan dengan Kristus harus dipahami dari perspektif teologis.8

Berdasarkan beberapa bagian dalam Alkitab, rencana dan rancangan tentang penyatuan orang-orang percaya dengan Yesus Kristus jelas merupakan rancangan yang ada dalam kedaulatan Allah dari sejak dunia belum dijadikan. Nats-nats Roma 8:28-30; Efesus 1:1-14, Kolose 1:25-27 dan Ibrani 13:20, 21 secara eksplisit mengungkapkan tentang rahasia keputusan Allah dalam pernjanjian penebusan kekal melalui pribadi Yesus Kristus. Yang mana di dalam Dia, orang-orang percaya dipersatukan secara obyektif dalam inkarnasi dan karya penebusan Kristus. Menurut W.E. Best, kesatuan orang-orang percaya dengan Kristus yang demikian merupakan suatu relasi yang dibangun di antara Bapa dan orang-orang yang diberikan kepada Kristus dalam perjanjian penebusan.9

Antisipasi dan Janji:

“Union Mystica” Orang Percaya dengan Kristus

Jauh hari sebelum Yesus Kristus mati di kayu salib, dikuburkan dan bangkit pada hari ketiga (1 Korintus 15:3,4), diri-Nya sudah menggumuli dalam wujud nasihat dan doa tentang akan terjadinya hubungan kemanunggalan tersebut di atas. Menjelang perayaan Paskah Yahudi, Yesus Kristus mengungkapkan misteri kemanunggalan itu di depan para murid yang senantiasa dikasihi-Nya (Yohanes 13:1; 18:1). Kemanunggalan yang dijanjikan tersebut merupakan syarat yang tidak bisa ditawar, agar orang-orang percaya (murid-murid-Nya) berkesempatan untuk berbuah. Perikop Yohanes 15:1-8 menjadi sentral perintah Yesus tentang kemanunggalan, yang dituturkan kepada para murid-Nya. Dalam pesan-pesan-Nya, Yesus menyatakan: ‘Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku’.10

Realisasi akan terjadinya kemanunggalan Yesus Kristus dengan umat yang percaya kepada-Nya bukan hanya merupakan perintah dan harapan. Dalam doa-Nya sendiri, Yesus Kristus menyadari betul bahwa memang sudah ada umat yang telah diberikan Bapa-Nya untuk kelak menjadi satu dengan diri-Nya. Nats-nats seperti Yohanes 6:39; 17: 2, 6 memberikan fakta yang mengherankan tentang bagaimana realisasi kesatuan Yesus dengan umat-Nya pasti akan terjadi. Berkenaan dengan nats-nats tersebut Anthony A. Hoekema menyatakan:

 

Injil Yohanes mengejutkan kita dengan satu hal lain. Yohanes memberitahukan kepada kita bahwa Yesus kadang-kadang merujuk kepada umat-Nya yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Misalnya, menurut Yohanes 6:39, Yesus berkata,‘Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.’ Di dalam doa yang disebut Doa Imam Agung yang tercatat di dalam Yohanes 17, Yesus berkata kepada Bapa, ‘Engkau (Bapa) telah memberikan kepada-Nya (Anak) kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya (ayat 2), dan juga ‘Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia.’(ayat 6).11

Mencermati ungkapan-ungkapan Yesus dalam nasihat-Nya kepada murid-murid-Nya dan dalam doa di atas, maka cukup beralasan untuk menyimpulkan bahwa rencana realisasi kemanunggalan Yesus dengan umat-Nya (union with Christ), merupakan rencana yang ajaib. Itu sama sekali bukan rancangan dan inisiatif manusia. Tepat pernyataan Anthony A Hoekema, bahwa hanya oleh karena Juruselamat kita melakukan semua hal ini (serangkaian karya penebusan) sehingga kesatuan aktual antara Kristus dengan umat kepunyaan-Nya dapat dimungkinkan.12

Makna dan Gagasan “Union Mystica”

Orang percaya dengan Kristus

Gagasan tentang kemanunggalan orang percaya dengan Yesus Kristus (union with Christ) dalam Perjanjian Baru muncul terutama dalam tulisan-tulisan Yohanes dan Paulus (Yohanes 14:20, 15:1-8; Roma 8:1, 9-10; I Korintus 15:22; 2 Korintus 12:2; Galatia 2:20, 3:28; Efesus 1:4, 2:10; Filipi 3:9; I Tesalonika 4:16; I Yohanes 4:13 dan sebagainya). Pada dasarnya Yohanes dan Paulus memakai terminologi yang sama dalam menggambarkan keunikan hubungan orang-orang percaya dengan Kristus (Union with Christ) itu. Kedua penulis utama Perjanjian baru tersebut (Yohanes13 dan Paulus14) sering menggunakan ungkapan kita di dalam Dia dan Dia di dalam kita untuk menjelaskan hubungan kemanunggalan orang-orang percaya dengan Kristus tersebut (Yohanes 15:5; I Yohanes 2:28; 3:6, 24).

Makna sentral dalam relasi spiritual orang-orang percaya dengan Kristus yang terkandung dalam ungkapan kita dalam Dia dan Dia dalam kita terletak pada penggunaan kata meno en. Kata yang pada umumnya diterjemahkan tinggal dalam ini muncul tidak kurang dari lima belas kali dalam tulisan Yohanes.15 Sedangkan dalam tulisan-tulisan Paulus, ungkapan tersebut muncul kurang lebih 164 kali.16 Kata meno en dalam Yohanes 15:4 termasuk kata yang secara metafora bisa dipakai untuk menjelaskan tempat.17 Namun apabila kata tersebut diikuti dengan bentuk datif dari pribadi, maka itu menunjukkan suatu relasi dalam hal mana seseorang atau sesuatu berdiri dengan yang lain. Bila berkaitan dengan orang (khususnya dalam tulisan Yohanes), maka kata tersebut mempunyai pengertian berada dan tinggal dipersatukan dengan seseorang tersebut dalam hati, pikiran dan kehendaknya (Filipi 2:5; Galatia 2;20). William F. Arndt memandang ungkapan tersebut sebagai ekspresi suatu hubungan personal yang dekat.18 Pemahaman-pemahaman yang sedemikian terhadap ungkapan meno en memberikan gambaran yang jelas akan intim dan mistikalnya kesatuan antara Kristus dan setiap orang percaya.19

Misteri kesatuan orang-orang percaya dengan Kristus yang dipaparkan oleh Yohanes dan Paulus merupakan fakta. Hubungan itu bukan masalah mistik Kristen, namun mengungkapkan kenyataan bahwa kekristenan juga harus menyangkut hati.20 Paulus sendiri dengan tegas menyebutnya sebagai keadaan yang nyata terjadi di mana Kristus ada di dalam soma orang-orang percaya (Roma 8:10; I Korintus 6:19). Jadi Kristus bisa tinggal dan hidup dalam soma pribadi-pribadi orang-orang percaya (humin)21. Robert H. Gundry mengakui bahwa tinggal di dalam soma sebagai pendiaman fisikal orang percaya oleh Roh Allah yang memimpin dan menguatkan aksi-aksi dari orang-orang percaya yang dikerjakan melalui instrumen tubuh.22 Kenyataan itu dikuatkan oleh pemakaian istilah oikei en humin oleh Paulus, yang berarti tinggal dalam rumah.23 Mueller memahaminya sebagai hubungan yang unik, keajaiban yang tak tertandingi dan yang terikat dengan kekuatan anugrah dan maksud Allah terdalam. Ini bukan hanya persatuan eksternal di bawah pengaruh Ilahi, tetapi juga suatu kesatuan inward.24 Kristus ada di dalam orang percaya tidak kurang dari pada orang percaya ada dalam Kristus. Kemanunggalan dengan Dia tidak pernah dapat diulangi (Yohanes 1:11-13; 3:7, 16).

Iman: Instrumen Perwujudan
“Union Mystica”
Orang Percaya dengan Kristus

Peritiwa kemanunggalan orang-orang percaya dengan Kristus menurut teks Roma 6-8 serta I Korintus 12:1-12, nampaknya efektif ketika orang-orang mengambil tindakan untuk percaya Yesus Kristus, yang berarti mengimani karya Kristus dalam penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Pengimanan atas karya Yesus Kristus itu semata-mata karya Roh Allah.25 Iman itu sendiri sebagai anugerah, walaupun diungkapkan oleh orang-orang percaya. Iman terhadap karya Kristus tersebut terjadi oleh karena kehendak manusia yang diperbaharui. Iman yang olehnya orang percaya dipersatukan dengan Yesus Kristus yang adalah tindakannya sendiri. Senada dengan W.E. Best menjelaskan tentang iman tersebut sebagai berikut:

Iman itu adalah instrumen yang mana orang berdosa disatukan pada Yesus Kristus. Suatu keadaan disatukan dengan Kristus. Iman itu bukan penyebab itu sendiri. Itu datang dari Roh Kudus Allah, yang adalah spirit hidup yang menghidupkan iman mati dan membuat orang hidup dalam Kristus yang telah mati.26

G.E Ladd menjelaskan peristiwa tersebut bukan sebagai mistisisme Kristen. Iman yang demikian tidak bertentangan dengan akal. Iman itu termasuk suatu pemikiran yang masuk akal, yaitu percaya bahwa Allah Yang Mahatinggi sanggup menyelamatkan manusia.27 Bila wahyu berarti bahwa Allah menyapa manusia, makan iman berarti manusia meresponi Allah secara positif.

Roh Kudus: Agen “Union Mystica”

Selain Yesus Kristus sudah mengantisipasi, memerintahkan dan mendoakan tentang akan terealisasinya kemanunggalan orang-orang percaya dengan diri-Nya, Dia juga menjanjikan tentang kehadiran Pribadi Ilahi yakni Roh Kudus yang akan menjadi penolong, pengajar dan pembaharu hidup murid-murid-Nya (Yohanes 14-16). Dia akan menjadi semacam instrumen utama ataupun Mediator bagi tinggalnya Yesus Kristus di dalam hidup orang-orang percaya. Di kemudian hari ternyata janji tersebut digenapi, dan lebih dari itu ternyata bahwa pribadi Roh Kudus tersebut menjadi semacam agen kehadiran dan kemanunggalan-Nya dengan pun dalam diri orang-orang percaya (Roma 8:9-11; I Korintus 12;2-3). Dalam teologi Paulus gambaran perkerjaan Roh Kudus untuk tugas tersebut sangat jelas. Secara pribadi lepas pribadi orang-orang percaya disebut sebagai tempat atau bait kehadiran Roh Allah (I Korintus 6:16-20).

E. Gaebelein menegaskan bahwa memang orang-orang percaya secara pribadi menjadi samacam the secred dwelling place bagi Allah di dalam Yesus Kristus. Pemakaian bentuk tunggal bagi kata tubuh dan bait menegaskan tentang individual dwelling tersebut terjadi.28

Lebih jauh dalam konteks Roma 8:1-17, Paulus menggamblangkan tentang misteri kepemilikan dan kemanunggalan orang-orang percaya dengan Yesus Kristus, melalui kehadiran Roh Kudus. Orang yang menjadi milik Kristus dan didiami Kristus, pasti didiami Roh Kristus (Roh Kudus). Pendiaman Roh Kudus merupakan bukti bahwa pendiaman Kristus terjadi, yang berarti kemanunggalan orang-orang percaya dengan pribadi Ilahi, yakni dengan Yesus Kristus itu terjadi. Tepat sekali yang dinyatakan oleh G.E Ladd, bahwa:

Tetapi Roh adalah cara Allah bekerja di dalam takdir baru. Roh itu adalah Kristus sendiri yang hadir dalam gereja-Nya. Inilah sebabnya Paulus dapat secara bebas menggantikan ungkapan ‘di dalam Kristus’ ‘ di dalam Roh’; ‘Kristus di dalam kamu’ ‘Roh di dalam kamu’. Mungkin ungkapan yang tepat adalah, ‘Kristus mendiami umat-Nya di dalam Roh’.29

Atas dasar kepastian hubungan kehadiran Roh Kudus dengan rahasia kemanunggalan umat dengan Allah yang demikian (kemanunggalan umat Tuhan di dalam Yesus Kristus), maka tidak berlebihan jika orang-orang disebut sebagai manusia baru dengan potensi daya ilahi. Kehidupan orang-orang percaya seharusnya merupakan penjabaran dari misteri eksistensi tersebut, baik dalam hal-hal yang bersifat prinsip maupun praktis.

Sifat “Union Mystica”

Orang Percaya dengan Kristus

Persatuan atau kemanunggalan yang dinyatakan Yesus Kristus melalui agen-Nya, Roh Kudus, tidak bisa disangkali merupakan dasar bagi segala keuntungan orang-orang percaya di dalam Yesus Kristus. Berkhof lebih jauh memandangnya sebagai dasar dari pembenaran orang-orang percaya melalui iman dan merupakan dasar di mana mereka memperoleh berkat rohani dan anugerah hidup yang kekal. Juga, hal itu merupakan dasar dari keseluruhan soteriologi dan bahkan juga sebagai tingkatan pertama dalam penerapan karya penebusan seperti kelahiran baru dan panggilan dalam hati manusia.30

Sebagaimana sudah disinggung pada bagian-bagian sebelumnya, konsep kesatuan atau kemanunggalan orang-orang percaya dengan Kristus, merupakan konsepsi yang sangat unik dan tak tertandingi. Beberapa sifat berikut menjadi esensi keunikan dari sifat kemanunggalan tersebut.

Pertama. Kemanunggalan bersifat individual atau pribadi. Dalam konsep ekklesiologis, memang Kristus menjadi kepala atas tubuh-Nya, yaitu gereja (I Korintus 12:1-30; Efesus 4:15, 16). Semua orang percaya dari segala abad, masuk dalam kesatuan tubuh Kristus. Tiap-tiap pribadi dipersatukan dalam ikatan dengan Kristus sebagai kepala tersebut. I Korintus 12:12-13 menjelaskan secara implisit bahwa masing-masing orang percaya dipersatukan dalam kesatuan dengan Yesus Kristus, bukan ikatan perwakilan. Setiap pribadi orang percaya adalah bagian penting dalam kesatuan dengan Kristus. Selanjutnya, I Korintus 6:15-20 lebih jelas lagi memberikan pengertian yang patut diperhatikan tentang sifat individual dari realita kemanunggalan orang-orang percaya dengan Kristus. Menyangkut dua nats tersebut lagi Louis Berkhof menuturkan bahwa pada dasarnya ada kemanunggalan atau kesatuan organik antara Kristus dengan keseluruhan orang-orang percaya. Namun demikian secara individual atau pribadi, setiap orang percaya (dalam somanya) juga menjadi tempat kediaman pribadi Kristus melalui Roh Kudus.31 Setiap orang berdosa yang dilahirbarukan secara langsung dihubungkan dengan Kristus dan menerima hidup mereka dari Dia.

Kedua, bukan mistik dan peleburan. Pada umumnya istilah mistik berkonotasi spiritual – yang gaib.32 Kata itu menunjukkan tentang aktivitas relijius yang bersifat misteri, intuitif, subyektif dan batiniah, serta tidak ilmiah. Dikaitkan dengan istilah kesatuan terkadang ungkapan tersebut menunjuk kepada kesatuan dan kemanunggalan dalam hal moral, kasih dan simpati sebagaimana ajaran Socian dan Arminian.33 Tidak demikian halnya dengan konsep kemanunggalan dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam tulisan-tulisan Paulus. Menurut William A. Mueller, kesatuan orang-orang percaya dengan Kristus yang disebut sebagai kesatuan mistis adalah menunjuk kepada kesatuan yang ajaib dan indah dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Dalam Perjanjian Baru, fenomena spiritual union with Christ bukanlah kenyataan akan terjadinya absorsi orang percaya ke dalam Kristus atau ke dalam ke-Ilahian-Nya, sebagaimana diekspresikan oleh kelompok Platonisme atau Hindu klasik.34 Secara tegas Louis Berkhof juga mengungkapkannya dalam pengertian yang sama, bahwa kesatuan tersebut bukanlah usaha persamaan atau penghilangan identitas masing-masing, yakni antara orang-orang percaya dengan Kristus. Yang mana menurut pandangan itu, kepribadian seseorang digabungkan dengan Kristus, sehingga Kristus dan orang percaya bukan dua pribadi yang terpisah.35 Sama sekali bukan seperti itu pengertian dan makna kemanunggalan atau kesatuan orang percaya dengan Yesus Kristus.

Pertama Korintus 6:19-20 dan Efesus 4:30 barangkali merupakan ayat-ayat yang paling eksplisit tentang kemanunggalan dan sekaligus mengandung pemahaman implisit yang menjelaskan tentang wujud dan sifat kemanunggalan dari dua pribadi dalam diri orang-orang percaya. Dari kedua nats tersebut, Efesus 4:30 merupakan nats yang paling jelas tentang makna tersebut. Paulus dalam ayat itu menerangkan secara tidak langsung bahwa dalam diri orang-orang percaya ada dua pribadi yang bisa beroposisi satu terhadap yang lain. Mereka adalah pribadi orang percaya itu sendiri dengan pribadi Roh Kudus sebagai agen kemanunggalan. Hal itu nampak dengan adanya penjelasan bahwa pribadi Roh Kudus bisa berduka atas sikap orang-orang percaya yang didiami-Nya. Jadi gambaran kemungkinan kontradiksi antara pribadi orang-orang percaya dan pribadi Roh Kudus dalam diri orang-orang percaya melalui nats tersebut membuktikan bahwa peleburan pribadi tidak terjadi dalam realita kemanunggalan orang-orang percaya dengan Kristus. Chris Marantika mencermati kenyataan itu dengan menyatakan:

Roh manusia di samping tetap, secara sempurna mempertahankan kepribadian dan keunikannya untuk dipenetrasikan dan dikerjakan oleh Roh Kudus dan dijadikan satu dengan Kristus, sehingga manusia itu menjadi sama waris dengan orang-orang tebusan yang dikepalai Yesus Kristus.36

Berkat dari “Union Mystica”

Kemanunggalan hidup orang-orang percaya dengan Kristus – sebagaimana firman Allah menyatakan – merupakan kesempatan yang sangat menguntungkan bagi orang-orang percaya itu sendiri dari mulai hidup di dunia ini hingga ke surga. Paulus mengagumi karya Allah itu dengan mengatakan: ‘…sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta, hikmat dan pengetahuan yang tersembunyi…37 Louis Berkhof memahaminya sebagai satu persatuan yang penuh berkat. Hal ini terlihat dalam berbagai penggambaran dalam Alkitab, seperti gambaran pokok anggur dan rantingnya (Yohanes 15:5), dasar bangunan dan bangunannya (I Petrus 2:4,5), suami dan istri (Efesus 5:23-32) serta gambaran kepala dan anggota-anggotanya (I Korintus 12:1-30; Efesus 4:15, 16). Secara lebih spesifik, keuntungan-keuntungan akibat kemanunggalan orang-orang percaya dengan pribadi Yesus Kristus melalui Roh Kudus termasuk antara lain:

Pertama, kemanunggalan umat dengan Kristus memungkinkan orang percaya akhirnya mendapat bagian dari kekayaan Kristus mulai sejak kelahiranbarunya (Efesus 1:3-14). Hanya atas dasar kesatuan dengan Kristuslah, orang-orang percaya mendapat jaminan kepastian segala berkat surgawi. Berdasarkan hak Allah berkat-berkat tersebut tidak bisa dibatalkan (Roma 8:31-35). Menurut nats tersebut, bahkan Allah sendiri tidak mungkin membatalkan komitmen untuk melimpahkan segala kasih dan berkat-berkat surgawi-Nya.

Kedua, kemanunggalan umat dengan Kristus memungkinkan penuangan potensi untuk perubahan hidup agar menjadi serupa dengan gambaran Yesus Kristus dan melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Setiap orang yang terlahir dari atas memiliki suatu hidup baru yang dikerjakan oleh Roh Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati.38 Hidup baru, oleh karena berbalik kepada Allah dan sesamanya. Gambar Allah diperbaharui dalam orang-orang percaya.39 Potensi dan kuasa perubahan tersebut berasal dari Kristus, yang bukan saja menyangkut jiwanya tetapi juga tubuhnya. Pekerjaan Yesus Kristus memungkinkan manusia mengalami perubahan dalam hidupnya.40 Roma 8:28-30 memaparkan tentang bagaimana peranan Roh Allah dalam proses menyerupakan orang-orang percaya dengan gambaran Anak-Nya, di mana Yesus Kristus menjadi target kedewasaan penuh dari orang-orang percaya (Efesus 4:13-16). Menyangkut panggilan tersebut, Klaus Issler menjelaskan bahwa:

Perjanjian Baru melaporkan paling tidak empat bidang yang sangat signifikan

dalam hal mana bantuan Roh Kudus diperlukan dalam hidup baru kita dalam

Kerajaan Allah:1.Pemampuan dalam memperdalam hubungan dengan Allah (persekutuan dengan Roh, Filipi 2:1; II Korintus 13:14). 2.Pemampuan untuk menjadi serupa dengan gambaran Kristus (buah Roh, Galatia 5:22). 3. Pemampuan untuk bertumbuh bersama ke dalam suatu persekutuan Kristen yang sehat dan dewasa (kesatuan dengan Roh, Efesus 4:3). 4. Pemampuan untuk melayani orang-orang lain (karunia rohani, I Korintus 12:1) dan untuk penginjilan (dipenuhi dengan Roh dan memberitakan Firman Allah dengan keberanian, Kisah Para Rasul 4:31; 1;8).41

Hasil pemampuan kuasa Roh Kudus tersebut barangkali tidak selalu bersifat supranatural wujudnya, tetapi pemampuannya bisa benar-benar kekuatan Kristus (kuasa Kristus) dalam diri orang-orang percaya sebagaimana dijanjikan dalam Matius 28:20 dan Kisah Para Rasul 1:8. Kenneth Cain King Horn mengungkapkan secara tepat tentang karya Kristus dalam memperbaharui hidup orang-orang percaya dengan menyatakan bahwa berdasarkan Yohanes 15:5; 17:2 Yesus melalui Roh Kudus tidak hanya memberi orang-orang percaya keberanian atau kuasa, tetapi Ia sendiri menjadi penguat dan kuasa orang-orang percaya itu sendiri.42

Ketiga, akibat dan berkat-berkat dari kemanunggalan bukan hanya persoalan menghasilkan praktik hidup yang sesuai dengan kehendak Ilahi, tetapi juga dalam hal menjalani kehidupan yang penuh tantangan di dunia ini. Roma 8:18-27 memberikan gambaran tentang bagaimana Roh Kudus menjadi rekan atau patner yang berperan menguatkan dan menjembatani pergumulan orang-orang percaya dalam dunia ini, sehingga beban-beban pergumulan tersebut menjadi lebih ringan. Hal itu cocok dengan janji Yesus tentang pentingnya kehadiran Roh Kudus pada Yohanes 15:18-27; 16:1-33. Di mana Pribadi itu bukan hanya membawa orang-orang percaya mengenal dan menjadi pemuja Kristus, tetapi siap menjadi menghibur dan kuasa untuk terus bersaksi tentang kebenaran Kristus selama di dunia ini.43 Klaus Issler mengatakan bahwa kehidupan Kristen tidaklah didesain untuk menjadi hidup sendiri dengan segala keterbatasan sumber-sumber manusiawi, tetapi orang Kristen ada dalam kebersamaan dengan Allah Roh Kudus.44 Kenyataan tersebut menguatkan self-defence anak-anak Allah menghadapi berbagai tantangan hidup.

Rangkuman

Berdasarkan tinjauan dalam Alkitab, benar bahwa manusia bisa manunggal dengan Allah. Ini terjadi secara efektif ketika dirinya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Dalam realita union with Christ, union mystica ( kemanunggalan dengan yang Ilahi) itu secara penuh, terpenuhi. Khususnya setelah masa inkarnasi Yesus Kristus dan mulai pada hari Pentakosta, fenomena tersebut akhirnya menjadi faktual. Kemanunggalan atau kesatuan orang-orang percaya dengan Yesus Kristus sebagai pribadi Ilahi, diwujudkan melalui kehadiran Roh Kudus.

Dalam peristiwa kemanunggalan orang-orang percaya dengan Kristus (union with Christ) di atas, tidak terjadi peleburan atau peniadaan masing-masing pribadi, yakni antara orang-orang percaya dan Yesus Kristus. Kemanunggalan tersebut tetap merupakan kesatuan antara dua pribadi, yakni orang-orang percaya dan Roh Allah yang tinggal dalam diri orang-orang percaya. Adegan tersebut bukan menganulir konsep kemahahadiran Allah, tetapi justru menunjukkan kemahakuasaan Allah dalam Yesus Kristus. Juga, bahwa kemanunggalan tersebut bukan paham mistik, seperti pemahaman Platonisme, Hindu Klasik atau Socianisme, tetapi suatu tindakan di mana Allah dalam Yesus Kristus tinggal secara spiritual dalam soma manusia yang percaya hingga kedatangan-Nya kedua kali.

Akibat dan berkat dari kemanunggalan orang-orang percaya adalah berkat-berkat yang besar bagi orang percaya itu sendiri. Kemanunggalan membawa dampak dimana orang-orang percaya secara pribadi mendapat jaminan (secara Ilahi) untuk mendapatkan segala berkat surgawi, dimampukan untuk hidup serupa dengan Yesus Kristus, bertahan dalam berbagai pergumulan hidup, serta memiliki persekutuan yang intim dan semakin dalam dengan Allah.


1Bahan sebagian dari disertasi.2 Niels Mulder, Kebatinan dan Kehidupan Sehari-hari Orang Jawa (Jakarta: Penerbit PT. Gramedia, 1983), 14-15. Dari berbagai aliran di Jawa dalam pengajarannya tentang hubungan Tuhan yang Mahaesa dengan umat-Nya (kawula-Nya), pada umumnya memiliki keyakinan dasar yang sama.3 Penyatuan umat dengan Tuhan, union mystica.4 Suwardi Endraswara, Mistik Kejawen (Sinkritisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa) (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2003), 7.5 W.E. Best, Regeneration and Conversion (Houston: WEBBMT, 1975), 75.6 Suatu istilah yang diciptakan oleh Jacob Carpov pada tahun 1737, yang berarti urutan keselamatan. Anthony A. Hoekema, Diselamatkan oleh Anugerah. (Surabaya: Penerbit Momentum, 2001). 23.7 Ibid., 81.8 Louis Berkhof, Teologi Sistematika (Doktrin Keselamatan) (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1997), 78-79.9 W.E. Best, 75.10 Yohanes 15:4.

11 Anthony A. Hoekema, 86.

12 Ibid., 87.

13 John F. Walvoord, and Zuck, Roy B., The Bible Knowledge. (canada: Victor Books, 1985), 325.

14 G.E. Ladd, Teologi Perjanjian Baru 2 (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999), 248.

15 Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinier (Yunani-Indonesia) dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK). (Jakarta: LAI, 2003), 510-511.

16 Carl. F.H Henry, Basic Christian Doctrines (Chicago: Holt, Reinhart and Winston, 1962), 208.

17 Vine, W. E., Vine’s Expository Dictionary of New Testament Words. (New Jersey: Fleming H. Revell Company, 1981), 1.

18 William F. Arndt, and F. Wilbur Ging Rich. A Greek-English Text of The New Testament (End Other Early Christian Literature) (Chicago: The University of Chicago Press, 1976), 259.

19 Carl. F.H. Henry, 208.

20 Harvie M. Conn. Teologia Kontemporer (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1988), 116-117.

21 John F. Walvoord, and Roy B. Zuck, 470.

22 Robert H. Gundry, Soma in Biblical theology (With Emphasis on Pauline Anthropology) (Grand Rapids: Academic Books, 1987), 38.

23 Roma 8:9.

24 Carl F.H. Henry, 211.

25 I Korintus 12:2-3.

26 W.E. Best, The Born – Again Phenomenon (A Cover Up for Heresy) (Houston: WEBBMT, 1992), 124-125.

27 Billy Graham. Bagaimana Dilahirkan Kembali (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1980), 218.

28 Frank E. Gaebelein, The Expositor’s Bible Commentary (Romans-Galatians) (Grand Rapids: Regency Reference Library, 1981), 167.

29 G.E. Ladd, 261.

30 Louis Berkhof, 79.

31 Ibid., 84.

32 J.S. Badudu, dan Mohammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Sinar Harapan, 1994), 903.

33 Louis Berkhof, 87.

34 Carl F. H. Henry, 206-207.

35 Louis Berkhof, 87.

36 Chris Marantika, Doktrin Keselamatan dan Kehidupan Rohani (Yogyakarta: Iman Press, 2002), 133.

37 Kolose 2:3. Terjemahan Baru dari Lembaga Alkitab Indonesia.

38 Dave Hagelberg, Tafsiran Roma dari Bahasa Yunani (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996), 149.

39 H. J. Appleby, By God’s Grace Alone (London: Grace Publications Trust, n.d.), 52.

40 Josh Mc Dowell, Benarkah Yesus itu Allah? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 120.

41 Klaus Issler, Christian Education Journal Volume 4. No. 2 (Deerfield: Trinity Evangelical Divinity School, 2000), 11.

42 Kenneth Cain King Horn, Christ Can Make You Fully Human (Nashville: Parthenon Press, 1975), 93.

43 Yohanes 15:26-27; 16:33.

44 Klaus Issler, 11.

Leave a Comment

Name: (Required)

E-mail: (Required)

Website:

Comment: